Rabu, 21 September 2016

Mubham (Qawaid al-Tafsir)



A.  Pengertian Mubham
Secara etimologi mubham mempunyai arti tersembunyi. Secara terminologi mempunyai arti semua lafadz yang termaktub didalam Alquran tanpa menyebutkannya secara spesifik atau sesuatu yang tertentu. Ilmu tentang mubham merupakan salah satu disiplin ilmu Alquran yang hanya bersumber pada penukilan, tidak pada yang lain.[1] Seperti yang terdapat dalam Alquran:
إِنِّي وَجَدْتُ امْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ وَأُوتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ
Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.
Maksudnya adalah Ratu Balqis binti Syarahil.

B.  Sebab-sebab Terjadinya Ketidakjelasan (Ibham) dalam Alquran
Al-Ibham (ketidakjelasan)[2] dalam beberapa ayat Alquran disebabkan oleh berbagai hal, diantaranya:
Sudah dijelaskan dalam ayat lain. Misalnya surat al-Fatihah ayat 7:
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka.
Ayat tersebut sudah dijelaskan dalam firman Allah surat An- Nisa ayat 69 :
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ
“Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh”.
Maksud yang diharapkan sudah jelas karena popularitasnya. Misalnya ayat:
 وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ
“Dan kami berfirman, “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini,…
Dalam ayat tersebut di atas, nama Hawa (istri Nabi Adam) tidak disebut secara langsung. Sebab dia tidak mempunyai istri selain dirinya.
Sengaja menutupinya dengan tujuan menegaskan dan menguatkan perintah menyayanginya. Misalnya ayat:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَى مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ
Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras.                      
Orang yang dimaksud dalam ayat di atas adalah Akhnas Ibn Syuraiq yang pada awalnya sangat membenci Islam, tetapi kemudian ia memeluk agama yang dibawa oleh Muhammad. Bahkan ia mampu menjadi muslim yang saleh.
Tidak ditemukan manfaat yang penting dari pengungkapannya secara jelas. Misalnya,
وَاسْأَلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ فِي السَّبْتِ
Dan tanyakanlah kepada Bani Israel tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu,...
Yang dimaksud adalah negeri Ailah atau Thabariyah.[3]
Untuk menegaskan muatan yang bersifat global, sekaligus menunjukkan bahwa hal itu tidak berkenaan dengan seseorang secara khusus. misalnya:
وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ
Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah.
Untuk mengagungkan dengan karakter yang lebih sempurna tanpa menyebutkan namanya. Misalnya:
وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ
Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya.
Ayat di atas menunjuk pada Abu Bakr Shiddiq.[4]
Untuk merendahkan karakter yang jelek. Misalnya:
إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأبْتَرُ
Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.



C.  Sumber Mubham
Untuk mengetahui mubham dibalik ayat tersebut dengan jalan Alquran dan periwatan hadis saja melalui sahabat yang mengambil periwayatan dari nabi dan para tabi’in yang mengambil dari sahabat, Imam Suyuti tidak memperkenankan ijtihad bi ra’y di dalamnya. Imam Suhaili dalam bukunya “At-Ta’rif wal I’lam bima Ubhima fi al-Qur’an minal Asmai wal A’alam” memperinci bahwasanya mengetahui mubham yang melalui hadis Rasulullah SAW bisa melalui Asbab An Nuzul ayat.[5]
Imam Zarkasyi memberi catatan dalam mubham, yaitu :
a). Dalam satu orang terdapat dua nama dan ditetapkan satu nama dari keduanya tersebut dengan maksud memunculkan orang tersebut, seperti nama Nabi Nuh, disebutkan dalam Alquran dengan nama tersebut agar mengingatkan banyaknya tafakkur akan dirinya dalam keta’atan kepada rabbnya, sedangkan nama aslinya Abdul Ghoffar.
Contoh lain dalam Alquran adalah dalam surat Al Lahab ayat 1:
تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ
Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.
Disebutkan dari nama aslinya Abdul Uzza ke nama julukanya yaitu Abu lahab dimaksudkan untuk menunjukkan kemashuranya atau untuk menunjukkan kejelekan namanya.
b). Disebutkan dalam Alquran dalam bentuk sifat, sebagai peringatan bahwasanya Allah menginginkan orang tersebut, seperti di surat Al-Qolam ayat 10-11 :
وَلا تُطِعْ كُلَّ حَلافٍ مَهِينٍ . هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ
Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah.
Yang dimaksud ayat di atas ialah Akhnas bin Syariq.
c). Didalam Alquran tidak disebutkan nama perempuan kecuali hanya Maryam binti Imron, disebutkan dalam 30 judul, diantara hikmah dari penyebutan nama Maryam adalah sebagai penegasan bahwasanya nama tersebut menunjukkan kekuatan ketundukannya kepada Allah dan sebagai pelaksanaan kebiasan adat bangsa Arab dalam menyebutkan nama ayahnya setelah nama asli, dalam hal ini Nabi Isa As tidak mempunyai bapak sehingga yang disebutkan adalah nama ibunya secara berulang agar dapat mempengaruhi dan menegaskan bahwasanya kelahiranya tanpa ayah seperti halnya penciptaan Adam.


d). Sebaliknya penyebutan nama lelaki banyak terdapat dalam Alquran misalnya dalam surat Al-Mudassir ayat 11 :

ذَرْنِي وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيدًا
Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian.
Dikatakan bahwasanya itu adalah Walid Ibn Mughirah.
Imam zarkasyi dalam bukunya Al-Burhan fi Ulum al-Quran menyatakan bahwasanya tidak dibahas atau diselidiki mubham, seperti tertera di surat Al-Anfal ayat 60 :
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ
لا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ
Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya.
Imam Zarkasyi mengatakan katanya mereka adalah jin dan atau quroidhah, akan tetapi Imam Suyuti tidak setuju dengan hal tersebut yang dimaksud dalam ayat ini adalah bukan tidak diketahuinya jenis mereka akan tetapi yang tidak diperbolehkan adalah penetapan atas orang tersebut,[6] seperti halnya surat At-Taubah ayat 101:
وَمِمَّنْ حَوْلَكُمْ مِنَ الأعْرَابِ مُنَافِقُونَ وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ مَرَدُوا عَلَى النِّفَاقِ لا تَعْلَمُهُمْ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ
Di antara orang-orang Arab Badui yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kami-lah yang mengetahui mereka.
yang tidak boleh ditetapkan adalah siapakah orang-orang munafik tersebut.
D.  Klasifikasi Mubham
Imam Suyuti mengklasifikasi mubham menjadi dua kelompok besar yaitu:
a). Ayat yang mempunyai arti mubham dari seorang laki-laki, perempuan, raja, jin, atau dua orang, sekumpulan yang diketahui semua nama mereka, atau seseorang, atau yang jika tidak dimaksudkan kepada umum.
Misalnya:
وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ
Dalam surat Al-Baqarah 132, mereka adalah Ismail, Ishaq, Madin, Zamroni, Sarah, Nafsyun, Nafsyan, Amim, Kisani, Surah, Luthoni, dan Nafas.
رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولا مِنْهُمْ
Rasul dalam surat Al Baqarah ayat 129 di atas adalah Nabi Muhammad SAW.
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
Manusia yang dimaksud dalam surat Al-Baqarah ayat 204 di atas adalah Akhnas Ibnu Sariq.
قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطِ
Dalam ayat surat Al-baqarah 136 di atas mereka adalah anak dari ya’qub yang berjumlah 12 mereka adalah : Yusuf, Rubail, Syam’un, Walawi, Yahuda, Dhani, Naftali, Jada, Asyira, Yashju, Rayalun, Benyamin.[7]
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ
Yang dimaksud ayat surat Al-baqarah ayat 258 yaitu Namrud Ibn Kan’an.
قَالَ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلامٌ وَقَدْ بَلَغَنِيَ الْكِبَرُ وَامْرَأَتِي عَاقِرٌ
Wanita yang dimaksud surat Ali -Imran ayat 40 adalah Ashya Binti Faqun.
وَمَنْ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ
Yang menyeru kepada keadilan adalah Utsman bin Afwan, surat An-Nahl ayat 76.
إِنْ تَتُوبَا إِلَى اللَّهِ فَقَدْ صَغَتْ قُلُوبُكُمَا وَإِنْ تَظَاهَرَا عَلَيْهِ
Kedua orang yang dimaksud dalam Surat At-Tahrim ayat 4 adalah Aisyah dan Hafsah.
b). Ayat yang menunjukkan suatu sekumpulan jumlah akan tetapi hanya sebagian saja yang diketahui.
Misalnya:
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ
Yang dimaksud dalam surat Al-Baqarah 219 adalah Umar, Hamzah, Muadz.
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأهِلَّةِ
Di antaranya Muadz bin jabal dan Sa’labah bin Ghonam, Surat Al-Baqoroh ayat 189.


[1] Al-Zarkasyi, al-Burhan fi ulum al-Qur’an, ed. Muhammad Abu al-Fadhl Ibrahim, ‘Isa al-Bab al-Habib, cet. II, t.th, I, hal. 35.
[2] Manna’ al-Qaththan, Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an, (Bairut, Mansyurat al-‘Ashar al-Hadis, 1973), Hal. 22.
[3] Jalal al-Din al-Suyuthi, al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an, Juz II (Dar al-Fikr, 1979), Hal. 108.
[4] Ibid.., Hal, 109.
[5] Subhi al-Shalih, Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an, (Bairut: Dar al-‘Ilm li al- Malayin, 1977), Hal. 132.
[6] M. Quraish Sihab, Metode Penelitian Tafsir, (Ujung Pandang: ‘Alaudin, 1984), Hal. 3-4.
[7] Al-Shabuni, al-Tibyan fi ‘Ulum al-Qur’an, (Bairut: Dar al-Irsyad, 1970), Hal. 10.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Potret Ramadhan

Oleh: Abdurrahman Rifki Alhamdulillah, kita berjumpa kembali di bulan yang penuh kemuliaan dengan gaya bahasa agama ada tiga muatan...