Oleh: Abdurrahman Rifki
Alhamdulillah, kita berjumpa kembali di bulan
yang penuh kemuliaan dengan gaya bahasa agama ada tiga muatan yakni,
pengampunan, rahmat, dan terbebas dari siksa api neraka. Terkait dengan bulan
yang penuh kemuliaan ini, selalu yang dikejar adalah pahalanya baik secara
fisik maupun ruhnya. Banyak sekali cara mendapatkannya secara formal pun
saudara-saudara kita mampu melaksanakan rukun Islam yang ke-3. Penulis sendiri
sebenarnya memahami kata berkah dan puasa. Dengan kata lain nash dalam
al-Qur’an benar-benar di wajibkan untuk melaksanakannya. Penulis ketika melihat
fenomena suasana ramadhan sangatlah sakral dan harus saling menghargai di
dalamnya, namun banyak sekali orang-orang yang kurang memahami apa makna puasa,
apakah hanya menahan lapar dan dahaga, atau hanya ingin memperebutkan pahala
karena mumpung di bulan suci dan di hari-hari biasa tidak seperti bulan suci
ramadhan. Nah, seketika membuat penulis ingin sekali memuat perkembangan puasa
khususnya di daerah Indonesia.
Mengingat perjalanan di syariatkannya puasa
tentu tidak lepas dari tradisi dan imunisasi (makna) puasa, ketika melihat
kembali suasana hari terakhir puasa TERNYATA masih banyak sekali yang
kurang memahami pemahaman puasa walaupun bukan sebiji seperti buah pisang.
Nyatanya, penulis menyadari bahwa sebenarnya dalam lubuk hati orang Islam
sendiri memahami kalau puasa itu sangatlah urgen dalam kehidupan terutama
agama. Karena tiap agama memiliki epistem puasa yang berbeda-beda baik secara
kualitas maupun kuantitas. Dalam segi biologis agaknya puasa hanya menahan
makan dan minum, hewan pun juga bisa bahwakan lebih kuat ketimbang manusia.
Secara garis besar bahwa, puasa memiliki 7 makna :
1. Menahan
diri dari segala emosi (Muring-Muring)
Selain menahan haus dan lapar, di bulan Suci ini, berpuasa
dianjurkan untuk juga menahan godaan diri dari segala bentuk emosi. Amarah,
nafsu, dan emosi yang berlebih, dapat menyia-nyiakan kegiatan berpuasa. Maka
dari itu, muslim dianjurkan untuk lebih banyak menghabiskan waktu untuk
beribadah, tadarusan, meminta maaf pada orang lain dan memberikan maaf pada
sesama.
- Menahan diri untuk tidak bergosip (Ngerasani)
Sesungguhnya
tidak ada yang baik dalam bergosip, apalagi saat Ramadhan tiba. Karena, Nabi
Muhammad shalallahu’alaihi Wassalam pernah bersabda, “Hindarilah oleh
kalian perbuatan ghibah. Karena ghibah lebih besar dosanya daripada zina.
Seseorang terkadang berzina kemudian bertaubat kepada Allah Subhanahu Wata’ala
dan diterima taubatnya oleh Allah. Sedang orang yang berbuat ghibah, dia tidak
akan diampuni sampai orang yang dia ghibah-i memaafkannya”. Penulis
mengutip dari kitab Ihya Ulumiddin, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali. Jilid 4, hal. 411.
- Melakukan ibadah dan siap sambut malam seribu bulan (Lailatul Qodar)
Malam
Lailatul Qadar, tentu sebagai umat muslim tidak asing lagi dengan malam yang
sesungguhnya terbaik dalam seribu bulan itu. Malam suci yang dinantikan bagi
setiap insan manusia muslim, malam kemuliaan yang hanya dapat dibeli dengan
amalan-amalan shaleh, seperti berpuasa, tilawah, tadarus al-Qur’an,
berdoa, berdzikir, muhasabah diri dan amal ma’ruf lainnya untuk diri sendiri
dan orang lain. Lakukanlah ibadah sebaik-baiknya pada bulan Ramadhan ini, Insya
Allah jika kita terus bertaqwa kepada Allah SWT, kita
berkesempatan untuk mendapatkan berkah istimewa dari malam Lailatul Qadar ini.
- Bulan al-Qur’an (Nuzulul Qur’an)
Bulan
Ramadhan adalah saat turunnya kitab al-Qur’an. Nuzulul Qur’an atau malam
disampaikannya wahyu kepada Nabi Muhammad SAW
melalui malaikat Jibril.
- Waktunya beramal
Janganlah
kalian menyia-nyiakan Ramadhan dengan hanya menghamburkan uang untuk belanja
baju baru, makanan nikmat tapi Anda melupakan diri untuk beramal. Niscaya puasa
kita akan sia-sia. Sesungguhnya sungguh dahsyat pahala jika kita beramal di bulan Ramadhan ini.
- Tak semua orang wajib puasa
Meskipun puasa adalah salah satu dari lima rukun Islam,
namun Allah SWT memberikan keistimewaan khusus kepada mereka yang sakit,
anak-anak yang belum baligh, ibu hamil dan menyusui, menstruasi atau orang yang
harus bepergian jauh dan berkondisi tidak memungkinkan untuk puasa. Mereka dapat memilih untuk menggantinya kemudian hari atau
membayar fidyah, yang berarti mereka akan memberi makan orang yang tidak mampu.
- Detoks usus
Selama
puasa, setiap racun yang tersimpan dalam lemak tubuh larut dan dikeluarkan dari
tubuh. Sejumlah jurnal kesehatan mencatat, puasa di bulan Ramadhan bisa
membersihkan lambung, usus, dan mengistirahatkan organ pencernaan lain. Itu
sebabnya, Ramadhan disambut positif oleh paramedis. Jika dilakukan dengan
benar, puasa dapat melepaskan endorfin yang meningkatkan kesehatan mental dan
detoksifikasi organ.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar