A.
Pengertian Mubham
Secara
etimologi mubham mempunyai arti tersembunyi. Secara terminologi mempunyai arti
semua lafadz yang termaktub didalam Alquran tanpa menyebutkannya secara
spesifik atau sesuatu yang tertentu. Ilmu tentang mubham merupakan salah satu
disiplin ilmu Alquran yang hanya bersumber pada penukilan, tidak pada yang
lain.[1]
Seperti yang terdapat dalam Alquran:
إِنِّي
وَجَدْتُ امْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ وَأُوتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ
عَظِيمٌ
Sesungguhnya
aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala
sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.
Maksudnya adalah
Ratu Balqis binti Syarahil.
B.
Sebab-sebab Terjadinya Ketidakjelasan (Ibham) dalam Alquran
Al-Ibham (ketidakjelasan)[2]
dalam beberapa ayat Alquran disebabkan oleh berbagai hal, diantaranya:
Sudah
dijelaskan dalam ayat lain. Misalnya surat al-Fatihah ayat 7:
صِرَاطَ
الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
(yaitu) jalan
orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka.
Ayat tersebut
sudah dijelaskan dalam firman Allah surat An- Nisa ayat 69 :
وَمَنْ
يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ
عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ
“Dan barang
siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan
orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para
shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh”.
Maksud yang
diharapkan sudah jelas karena popularitasnya. Misalnya ayat:
وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ
“Dan kami
berfirman, “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini,…
Dalam
ayat tersebut di atas, nama Hawa (istri Nabi Adam) tidak disebut secara
langsung. Sebab dia tidak mempunyai istri selain dirinya.
Sengaja
menutupinya dengan tujuan menegaskan dan menguatkan perintah menyayanginya.
Misalnya ayat:
وَمِنَ
النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللَّهَ
عَلَى مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ
Dan di antara
manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan
dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah
penantang yang paling keras.
Orang yang
dimaksud dalam ayat di atas adalah Akhnas Ibn Syuraiq yang pada awalnya sangat
membenci Islam, tetapi kemudian ia memeluk agama yang dibawa oleh Muhammad.
Bahkan ia mampu menjadi muslim yang saleh.
Tidak ditemukan
manfaat yang penting dari pengungkapannya secara jelas. Misalnya,
وَاسْأَلْهُمْ
عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ فِي
السَّبْتِ
Dan tanyakanlah
kepada Bani Israel tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka
melanggar aturan pada hari Sabtu,...
Yang dimaksud adalah
negeri Ailah atau Thabariyah.[3]
Untuk
menegaskan muatan yang bersifat global, sekaligus menunjukkan bahwa hal itu
tidak berkenaan dengan seseorang secara khusus. misalnya:
وَمَنْ
يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ
الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ
Barang siapa
keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya,
kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka
sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah.
Untuk
mengagungkan dengan karakter yang lebih sempurna tanpa menyebutkan namanya.
Misalnya:
وَالَّذِي
جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ
Dan orang yang
membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya.
Ayat di atas
menunjuk pada Abu Bakr Shiddiq.[4]
Untuk merendahkan
karakter yang jelek. Misalnya:
إِنَّ
شَانِئَكَ هُوَ الأبْتَرُ
Sesungguhnya
orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.
C.
Sumber Mubham
Untuk mengetahui mubham dibalik ayat tersebut dengan jalan Alquran
dan periwatan hadis saja melalui sahabat yang mengambil periwayatan dari nabi
dan para tabi’in yang mengambil dari sahabat, Imam Suyuti tidak memperkenankan
ijtihad bi ra’y di dalamnya. Imam Suhaili dalam bukunya “At-Ta’rif wal I’lam
bima Ubhima fi al-Qur’an minal Asmai wal A’alam” memperinci bahwasanya mengetahui
mubham yang melalui hadis Rasulullah SAW bisa melalui Asbab An Nuzul ayat.[5]
Imam Zarkasyi
memberi catatan dalam mubham, yaitu :
a). Dalam satu
orang terdapat dua nama dan ditetapkan satu nama dari keduanya tersebut dengan
maksud memunculkan orang tersebut, seperti nama Nabi Nuh, disebutkan dalam
Alquran dengan nama tersebut agar mengingatkan banyaknya tafakkur akan dirinya
dalam keta’atan kepada rabbnya, sedangkan nama aslinya Abdul Ghoffar.
Contoh lain
dalam Alquran adalah dalam surat Al Lahab ayat 1:
تَبَّتْ
يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ
Binasalah kedua
tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.
Disebutkan dari
nama aslinya Abdul Uzza ke nama julukanya yaitu Abu lahab dimaksudkan untuk
menunjukkan kemashuranya atau untuk menunjukkan kejelekan namanya.
b). Disebutkan
dalam Alquran dalam bentuk sifat, sebagai peringatan bahwasanya Allah
menginginkan orang tersebut, seperti di surat Al-Qolam ayat 10-11 :
وَلا
تُطِعْ كُلَّ حَلافٍ مَهِينٍ . هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ
Dan janganlah
kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela,
yang kian ke mari menghambur fitnah.
Yang dimaksud
ayat di atas ialah Akhnas bin Syariq.
c). Didalam
Alquran tidak disebutkan nama perempuan kecuali hanya Maryam binti Imron,
disebutkan dalam 30 judul, diantara hikmah dari penyebutan nama Maryam adalah
sebagai penegasan bahwasanya nama tersebut menunjukkan kekuatan ketundukannya
kepada Allah dan sebagai pelaksanaan kebiasan adat bangsa Arab dalam
menyebutkan nama ayahnya setelah nama asli, dalam hal ini Nabi Isa As tidak
mempunyai bapak sehingga yang disebutkan adalah nama ibunya secara berulang
agar dapat mempengaruhi dan menegaskan bahwasanya kelahiranya tanpa ayah
seperti halnya penciptaan Adam.
d). Sebaliknya
penyebutan nama lelaki banyak terdapat dalam Alquran misalnya dalam surat
Al-Mudassir ayat 11 :
ذَرْنِي
وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيدًا
Biarkanlah Aku
bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian.
Dikatakan
bahwasanya itu adalah Walid Ibn Mughirah.
Imam zarkasyi
dalam bukunya Al-Burhan fi Ulum al-Quran menyatakan bahwasanya tidak dibahas
atau diselidiki mubham, seperti tertera di surat Al-Anfal ayat 60 :
وَأَعِدُّوا
لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ
عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ
لا
تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ
Dan siapkanlah
untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda
yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan
musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak
mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya.
Imam
Zarkasyi mengatakan katanya mereka adalah jin dan atau quroidhah, akan tetapi
Imam Suyuti tidak setuju dengan hal tersebut yang dimaksud dalam ayat ini
adalah bukan tidak diketahuinya jenis mereka akan tetapi yang tidak
diperbolehkan adalah penetapan atas orang tersebut,[6]
seperti halnya surat At-Taubah ayat 101:
وَمِمَّنْ حَوْلَكُمْ مِنَ الأعْرَابِ مُنَافِقُونَ وَمِنْ أَهْلِ
الْمَدِينَةِ مَرَدُوا عَلَى النِّفَاقِ لا تَعْلَمُهُمْ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ
Di antara
orang-orang Arab Badui yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan
(juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya.
Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kami-lah yang mengetahui
mereka.
yang tidak
boleh ditetapkan adalah siapakah orang-orang munafik tersebut.
D. Klasifikasi Mubham
Imam
Suyuti mengklasifikasi mubham menjadi dua kelompok besar yaitu:
a). Ayat yang
mempunyai arti mubham dari seorang laki-laki, perempuan, raja, jin, atau dua
orang, sekumpulan yang diketahui semua nama mereka, atau seseorang, atau yang
jika tidak dimaksudkan kepada umum.
Misalnya:
وَوَصَّى
بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ
Dalam surat
Al-Baqarah 132, mereka adalah Ismail, Ishaq, Madin, Zamroni, Sarah, Nafsyun,
Nafsyan, Amim, Kisani, Surah, Luthoni, dan Nafas.
رَبَّنَا
وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولا مِنْهُمْ
Rasul dalam surat Al Baqarah ayat
129 di atas adalah Nabi Muhammad SAW.
وَمِنَ
النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
Manusia yang
dimaksud dalam surat Al-Baqarah ayat 204 di atas adalah Akhnas Ibnu Sariq.
قُولُوا
آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ
وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطِ
Dalam ayat
surat Al-baqarah 136 di atas mereka adalah anak dari ya’qub yang berjumlah 12
mereka adalah : Yusuf, Rubail, Syam’un, Walawi, Yahuda, Dhani, Naftali, Jada,
Asyira, Yashju, Rayalun, Benyamin.[7]
أَلَمْ
تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ
Yang dimaksud
ayat surat Al-baqarah ayat 258 yaitu Namrud Ibn Kan’an.
قَالَ
رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلامٌ وَقَدْ بَلَغَنِيَ الْكِبَرُ وَامْرَأَتِي
عَاقِرٌ
Wanita yang
dimaksud surat Ali -Imran ayat 40 adalah Ashya Binti Faqun.
وَمَنْ
يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ
Yang menyeru
kepada keadilan adalah Utsman bin Afwan, surat An-Nahl ayat 76.
إِنْ
تَتُوبَا إِلَى اللَّهِ فَقَدْ صَغَتْ قُلُوبُكُمَا وَإِنْ تَظَاهَرَا عَلَيْهِ
Kedua orang
yang dimaksud dalam Surat At-Tahrim ayat 4 adalah Aisyah dan Hafsah.
b). Ayat yang
menunjukkan suatu sekumpulan jumlah akan tetapi hanya sebagian saja yang
diketahui.
Misalnya:
يَسْأَلُونَكَ
عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ
Yang dimaksud
dalam surat Al-Baqarah 219 adalah Umar, Hamzah, Muadz.
يَسْأَلُونَكَ
عَنِ الأهِلَّةِ
Di antaranya
Muadz bin jabal dan Sa’labah bin Ghonam, Surat Al-Baqoroh ayat 189.
[1]
Al-Zarkasyi, al-Burhan fi ulum al-Qur’an, ed. Muhammad Abu al-Fadhl
Ibrahim, ‘Isa al-Bab al-Habib, cet. II, t.th, I, hal. 35.
[2]
Manna’ al-Qaththan, Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an, (Bairut, Mansyurat
al-‘Ashar al-Hadis, 1973), Hal. 22.
[3]
Jalal al-Din al-Suyuthi, al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an, Juz II (Dar
al-Fikr, 1979), Hal. 108.
[4] Ibid..,
Hal, 109.
[5]
Subhi al-Shalih, Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an, (Bairut: Dar al-‘Ilm li
al- Malayin, 1977), Hal. 132.
[6] M.
Quraish Sihab, Metode Penelitian Tafsir, (Ujung Pandang: ‘Alaudin,
1984), Hal. 3-4.
[7]
Al-Shabuni, al-Tibyan fi ‘Ulum al-Qur’an, (Bairut: Dar al-Irsyad, 1970),
Hal. 10.