Oleh
:Abdurrahman Rifki
I. Muqaddimah
1.1.Kata Pengantar
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam yang telah
memberikan begitu banyak nikmat dan karunianya kepada kita semua, sehingga kita
mampu untuk melaksanakan rutinitas kita. Shalawat serta salam semoga tetap
mengalir kepada Rasulallah Muhammad Saw., yang telah mengemban risalah kenabian
dengan baik sehinga kita dapat mersakan nikmat iman dan islam.
Al-Qur’an adalah sumber hukum pertama umat Islam.
Kebahagiaan mereka bergantung pada kemampuan memahami maknanya, pengetauan
rahasia-rahasianya dan pengalaman yang terkandung didalamnya. Kemampuan setiap
orang dalam menafsirkan Al-Qur’an tentu berbeda, padahal penjelasan
ayat-ayatnya begitu jelas. Perbedaan daya nalar diantara mereka ini adalah
sesutau yang tidak dipertentangkan lagi. Kalangan awam hanya dapat memahami
makna-makna lahirnya dan bersifat global. Sedangkan kalangan cendikiawan dan
terpelajar akan dapat memahami dan menyingkap makna-maknanya secara menarik.
Didalam kedua kelompok inipun terdapat aneka ragam dan tingat pemahaman. Maka
tidaklah mengherankan jika Al-Qur’an mendapatkan perhatian besar dari
umatnya melaluai pengkajian intensif terutama dalam rangka menafsirkan
kata-kata yang asing atau dalam mena’wilkan suatu redaksi kalimat.
Umat Islam memiliki banyak sekali ahli tafsir,
diantara mereka ada dari kalangan shahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in
bahkan ada juga dari ulama zaman ini yang mencoba untuk menafsirkan ayat
Al-Qur’an. Dalam tulisan yang singkat ini kami akan menganalisa bagaimana Ibnu
Katsir menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an.
1.2. Latar Belakang
Masalah
Al-Qur’an merupakan Mu’jizat Islam yang abadi, dimana
semakin maju ilmu pengetahuan, semakin jelas kemu’jizatannya. Allah swt.
Menurunkannya kepada nabi Muhammad saw. Demi membebaskan manusia dari berbagai
kegelapan hidup menuju cahaya ilahi, dan membimbing mereka kejalan yang lurus. Rasulallah
menyampaikannya kependuduk asli Arab yang sudah tentu dapat memahami
tabiat mereka. Jika terdapat sesuatu yang kurang jelas bagi mereka tentang
ayat-ayat yang mereka terima, mereka langsung menanyakan kepada Rasulallah
saw..
Dalam ilmu tafsir Al-Qur’an banyak sekali ulama yang
mencoba menafsirkan ayat-ayat dalam Al-Qur’an. Dalam penafsirannya para
mufassirin dibagi kedalam dua kelompok, yaitu mufassir yang menafsirkan ayat
dengan menggunakan metode bil ma’tsur dan para mufassirin yang
menafsirkan ayat dengan menggunakan metode bir Ra’yi. Metode bil
ma’tsur yaitu menafsirkan ayat dengan ayat, ayat dengan sunnah, ayat dengan
perkataan shahabat atau ayat dengan perkataan tokoh-tokoh besar tabi’in.
Sedangkan metode bir ra’yi yaitu menafsirkan ayat dengan
pemahaman mufassir sendiri.
Adapun dalam tulisan ini kami aka mencoba meneliti
metode yang dipakai Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat al-Qur’an yang konon
katanya merupakan tafsir Al-Qur’an bil ma’tsur terbaik kedua setelah
tafsir at-Thabari. Penulisan ini bertujuan untuk memperoleh nilai tugas dari
dosen Ulmul Qur’an.
1.3.Rumusan Masalah
Dalam perumusan masalah ini kami menggunakan beberapa
pertanyaan yaitu
- Bagaimanakah
Ibnu Katsir menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dalam tafsirnya
- Apa
kelebihan dan kekurangan tafsir Ibnu Katsir
II. Profil Tokoh
2.1. Biografi Singkat Ibnu Katsir
Nama lengkap Ibnu Katsir ialah, Abul Fidâ ‘Imaduddin
Isma’il bin Syeh Abi Haffsh Syihabuddin Umar bin Katsir bin Dla`i ibn
Katsir bin Zarâ` al-Qursyi al-Damsyiqi. Ia di lahirkan di kampung Mijdal,
daerah Bashrah sebelah timur kota Damaskus, pada tahun 700 H. Ayahnya berasal
dari Bashrah, sementara ibunya berasal dari Mijdal. Ayahnya bernama Syihabuddin
Abu Hafsh Umar ibn Katsir. Ia adalah ulama yang faqih serta berpengaruh
di daerahnya. Ia juga terkenal dengan ahli ceramah. Hal ini sebagaimana di
ungkapkan Ibnu Katsir dalam kitab tarikhnya (al-Bidâyah wa al-Nihâyah). Ayahnya
lahir sekitar tahun 640 H, dan ia wafat pada bulan Jumadil ‘Ula 703 H. di
daerah Mijdal, ketika Ibnu Katsir berusia tiga tahun, dan dikuburkan di sana.
Ibnu Katsir adalah anak yang paling kecil di
keluarganya. Hal ini sebagaimana yang ia utarakan; “ Anak yang paling
besar di keluarganya laki-laki, yang bernama Isma’il, sedangkan yang paling
kecil adalah saya “. Kakak laki-laki yang paling besar bernama Ismail dan yang
paling kecilpun Ismail.
Sosok ayah memang sangat berpengaruh dalam keluarga.
Kebesaran serta tauladan ayahnyalah pribadi Ibnu Katsir mampu menandingi
kebesaran ayahnya, bahkan melebihi keluasan ilmu ayahnya. Dibesarkan dalam
keluarga yang taat beragama, serta senantiasa menjunjung nilai-nilai keilmuan,
mampu melahirkan sosok anak saleh dan bersemangat dalam mencari mutiara-mutiara
ilmu yang berharga dimanapun. Dengan modal usaha dan kerja keras Ibnu Katsir
menjadi sosok ulama yang diperhitungkan dalam percaturan keilmuan.
Ibnu Katsir mulai sedari kecil mencari ilmu. Semenjak
ayahnya wafat kala itu Ibnu Katsir baru berumur tiga tahun, selanjutnya
kakaknya bernama Abdul Wahab yang mendidik dan mengayomi Ibnu Katsir kecil.
Ketika genap usia sebelas tahun, Ia selesai menghafalkan al-Qur`an.
Pada tahun 707 H, Ibnu Katsir pindah ke Damaskus. Ia
belajar kepada dua Grand Syaikh Damaskus, yaitu Syaikh Burhanuddin Ibrahim
Abdurrahman al-Fazzari (w. 729) terkenal dengan ibnu al-Farkah, tentang
fiqh syafi’i. lalu belajar ilmu ushul fiqh ibn Hâjib kepada syaikh
Kamaluddin bin Qodi Syuhbah. Lalu ia berguru kepada; Isa bin Muth’im, syeh Ahmad
bin Abi Thalib al-Muammari (w. 730), Ibnu Asakir (w. 723), Ibn Syayrazi, Syaikh
Syamsuddin al-Dzhabi (w. 748), Syaikh Abu Musa al-Qurafi, Abu al-Fatah
al-Dabusi, Syaikh Ishaq bin al-Amadi (w. 725), Syaikh Muhamad bin
Zurad. Ia juga sempat ber-mulajamah kepada Syaikh Jamaluddin Yusuf bin Zaki
al-Mazi (w. 742), sampai ia mendapatkan pendamping hidupnya. Ia menikah dengan
salah seorang putri Syaikh al-Mazi. Syeh al-Mazi, adalah yang mengarang kitab
“Tahdzîbu al-kamâl” dan “Athrâf-u al-kutub-i al-sittah“.
Begitu pula, Ibnu Katsir berguru Shahih Muslim kepada
Syaikh Nazmuddin bin al-Asqalani. Selain guru-guru yang telah dipaparkan di
atas, masih ada beberapa guru yang mempunyai pengaruh besar terhadap Ibnu
Katsir; mereka adalah Ibnu Taymiyyah. Banyak sekali sikap Ibnu Katsir yang
terwarnai dengan Ibnu Taymiyah, baik itu dalam berfatwa, cara berpikir juga
dalam metode karya-karyanya. Dan hanya sedikit sekali fatwa beliau yang berbeda
dengan Ibnu Taymiyyah.
Sementara murid-murid beliaupun tidak sedikit,
diantaranya Syihabuddin bin haji. Pengakuan yang jujur lahir dari muridnya, “Ibnu
Katsir adalah ulama yang mengetahui matan hadits, serta takhrij rijalnya. Ia
mengetahui yang shahih dan dha’if”. Guru-guru maupun sahabat beliau mengetahui,
bahwa ia bukan saja ulama yang kapabel dalam bidang tafsir, juga hadits dan
sejarah. Sejarawan sekaliber al-Dzahabi, tidak ketinggalan memberikan sanjungan
kepada Ibnu Katsir, “Ibnu Katsir adalah seorang mufti, muhaddits, juga ulama
yang faqih dan kapabel dalam tafsir”.
Genap usia tujuh puluh empat tahun akhirnya ulama ini
wafat, tepatnya pada hari Kamis, 26 Sya’ban 774 H. Ia di kuburkan di pemakaman
shufiyah Damaskus, disisi makam guru yang sangat dicintai dan dihormatinya
yaitu Ibnu Taimiyah. [1]
III. Karya – karya Ibnu katsir
3.1.Sekilas tentang karya – karya Ibnu katsir
Sosok ulama seperti Ibn Katsir, memang jarang kita
temui, ulama yang lintas kemampuan dalam disiplin ilmu. Spesialisasinya tidak
hanya satu jenis ilmu saja. Selain itu, ia juga sangat produktif dalam karya,
telah banyak karya-karya yang lahir dari tangan dan ketajaman berpikirnya. Di
antara karya-karya beliau adalah :
- Tafsîr
al-Qur`an al-Azhîm ( akan kita bahas dalam tulisan ini)
- Al-Bidâyah
wa al-Nihâyah. Buku ini membahas tentang sejarah. Buku ini sering
dijadikan rujukan para peneliti sejarah. Sumbernya begitu autentik.
Karyanya ini berisikan berbagai tinjauan sejarah. Pertama, pemaparan
tentang sejarah dan kisah Nabi-nabi beserta umatnya di masa lalu. Kisah
ini ditopang dengan dalil-dalil yang kuat, baik itu dari al-Qur`an maupun
al-Sunnah, juga pendapat-pendapat para mufassir, muhaddits dan sejarawan.
Kedua, Ia menguraikan secara jelas mengenai bangsa Arab jaman jahiliyah,
kemudian bangsa Arab ketika kedatangan Nabi Saw dan perjalanan dakwah Nabi
Saw beserta para sahabatnya. Buku ini di akhiri dengan kisah Dazzal, juga
ia ungkapkan mengenai tanda-tanda kiamat lainnya.
- Al-Takmîl
fî makrifati al_tsiqât wa al-dlu’afâ` wa- al majâhil. Buku ini adalah
rujukan dalam ilmu hadist serta untuk mengetahui jarh wa ta’dil.
karya ini adalah karya gabungan dua karya imam Dzahabi yaitu Tahdzîbu
al-kamâl fî asmâ`i al rijâl dan Mîzân al i’tidâl fî naqdi al-rijâl dengan
tambahan dalam jarh wa ta’dil.
- Al-Hadyu
wa al-Sunan fî Ahâdits al-Masânid wa al-Sunan atau yang mashur
dengan istilah Jâmi’ al-Masânid. Dalam kitab ini, Ibnu Katsir
menggabungkan kitab musnad imam Ahmad (w.241), al-Bajjar (w.291),
Abi Ya’la (w.307) Ibn Abi Syaybah (w.297), bersama kitab yang enam.
Kemudian Ia menyusunnya dengan bab per bab.
- Al-Sîrah
al-Nabawiyah.
- Al-Musnad
al-syaykhân (musnad Abu Bakar dan Umar).
- Syamâil
al-rasûl wa dalâilu nubuwwatihi wa fadlâilihi wa khashâ`isihi (di nukil
dari kitab bidâyah wa nihâyah)
- Ikhtishar
al-Sîrah al-Nabawiyah. Di ambil dari bidâyah wa nihâyah terkhusus
mengenai kisah bangsa Arab jaman jahiliyah dan jaman
Islam serta sirah Nabi Saw.
- Al-Ahâdîts
al-tawhîd wa al-rad ‘alâ al-syirk.
- Syarh
Bukhari (tidak selesai)
- Takhrîj
ahâdîts muktashar ibn al-hâjib.
- Takhrîj
ahâdîts adillatu al-tanbîh fî fiqh al-syaafi’i.
- Muktashar
kitab Bayhaqi (al-madkhal ilâ al-sunan)
- Ikhtishar
‘ulûmu al-hadîts li ibn al-shalâh.
- Kitâb
al-simâ’.
- Kitâb
al-ahkâm (tidak selesai hanya sampai bab haji saja)
- Risâlah
al-jihâd.
- Thabâqât
al-syafi’iyyah.
- Al-Kawâkib
al-Dirâri (dinukil dari kitab bidâyah wa nihâyah)
- Al-Ahkâm
al-Kabîrah.
- Manâqib
al-syâfi’i..
3.2. Bentuk fisik tafsir
Ibnu Katsir
Pada mulanya buku ini ditulis dengan sepuluh
jilid, tapi kemudian dicetak dengan empat jilid dengan jilidan yang
sangat tebal. Pada terbitan Daarul Jiil, Beirut, tahun 1991, kalasifikasinya
seperti berikut :
- Jilid
I, dari surat al-Fatihah sampai surat an-Nisaa. Tebal : 552 halaman
- Jilid
II, dari surat al-Maidah sampai surat an-Nahl. Tebal : 573 halaman
- Jilid
III, dari surat al-Israa samapai surat Yaasiin. Tebal :
558 halaman
- Jilid
IV, dari surat as-Shaafat sampai surat an-Naas. Tebal :580 halaman [2]
IV. Metodologi Tafsir ibnu Katsir
Sebelum kita mengambil beberapa penafsiran dari ayat
Al-Qur’an yang telah ditafsiran Ibnu Katsir, alangkah lebih baiknya kita
mengenal latar belakang keilmuan dan kondisi yang terjadi pada masa Ibnu
Katsir, sehingga kita mengetahui bagaimana relevansi kondisi itu denan
peafsiran ayat Al-Qur’an.
Karakater karya seseorang tidak akan bisa dilepaskan
dari kecondongan minat orang tersebut, kira-kira seperti itu jugalah tafsir
ibnu katsir. Sosok Ibnu Katsir yang condong kepada keabsahan turats telah
ikut mewarnai karyanya. Begitu juga hal ini tidak bisa lepas dari kondisi jaman
saat itu, perhelatan aliran pemikiran pada abad ke 7/8 H memang sudah kompleks.
Artinya telah banyak aliran pemikiran yang telah ikut mewarnai karakter
seseorang.
Pemahaman yang orisinil untuk mempertahankan
keauntetikan Qur`an dan sunnah terus dijaga. Inilah sebagian pewarnaan
Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Selain itu, kelompok-kelompok yang mengagungkan
akal secara berlebihan dan thariqah-thariqah shufiyah telah beredar luas kala
itu. Islam telah berkembang pesat dan banyak ‘agamawan’ yang masuk ke dalam
Islam. Hal ini ikut pula mempengaruhi sekaligus mewarnai perkembangan wawasan
pemikiran.
Ibnu Katsir yang telah ter-sibghah dengan pola
pikir gurunya (Ibnu Taymiyah) sangat terwarnai dalam metode karya-karyanya.
Sehingga dengan jujur Ia berkata, bahwa metode tafsir yang ia gunakan persis
sealur dan sejalur dengan gurunnya Ibnu Taymiyyah. Sebagaimana telah disinggung
di atas, bahwa tafsir ibnu katsir telah menjadi rujukan kategori tafsir
bil-ma’tsur. Yang tentunya hal ini tidak bisa dipisahkan dari metode beliau
dalam karyanya.
Untuk lebih jelasnya mari kita analisa beberapa ayat
berikut :
Al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 47 juz 1
“ Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah
aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya aku telah melebihkan
kamu atas segala umat.”
Allah mengingatkan Bani Israil akan nikmat yang dulu
diberikan kepada nenek moyang dan pendahulu mereka. Yaitu nikmat keungulan
mereka berupa pengangkatan sebagian mereka menjadi rasul, penurunanan Al-Kitab,
dan mengunggulkan mereka atas umat lain pada zamannya, sebagaimana Allah
berfirman , “ Dan sesunguhnya telah kami pilih mereka dengan pengetahuan
(kami) atas bangsa-bangsa.’ ( Ad-Dukhan : 32). Abul Aliyah berkata, “
mereka mendapat keunggulan melalui kerajaan, pra rasul, da kitab-kitab, atas
umat lain pada zamannya. Karena pada setiap zaman ada umat yang unggul.
Diriwayatkan dari mujahid dan dari yang lainnya bahwa
ayat di atas harus ditafsirkan seperti itu, karena umat ini, yakni umat islam,
lebih unggul dari bani israil, berdasarkan firman Alah tenang umat ini, “
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untk manusia, menyuruh kepada
yang ma’ruf dan menceah dari yang munkar dan beriman kepada Allah.
Sekiranya ahli kitab beriman , tentulah itu lebih baik bagi mereka.” (
Ali-Imran :110), maka ayat diatas tidak boleh dibelokan unuk mengunggulkan Bnai
Israil atas umat-umat yang lain, baik yang sebelum taupun ssesudahnya. Ibrahim
yang ada sebelum mereka adalah lebih unggul dar segenap nabi terdahulu.
tetapi Muhamad saw. Yang lahir setelah mereka adalah orang yang paling unggul
atas semua mahluk, junjungan umat manusia, baik didunia aupun di akhirat.
Shalawat, salam dan erkah Allah semoga terlimpah atasnya.
Al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 210 juz 2
“ Tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan datangnya
Allah dan Malaikat (pada hari kiamat) dalam naungan awan, dan diputuskanlah
perkaranya. dan hanya kepada Allah dikembalikan segala urusan.”
Allah mengancam kaum kafir,” Tiada yang mereka
nanti-nantikan kecuali Allah mendatangkan merka dalam naungan awan dan
malaikat,” yakni pda hari kiamat sebagai penetapan keputusan antara
orang-orang terdahulu dan kemudian, lalu setiap pelaku dibalas selaras dengan
perilakunya. Jika perilakunya baik maka akan dibalas dengan kebaikan , dan jika
buruk maka dibalas dengan keburukan. Oleh karena itu Allah swt. berfirman lalu
diputuskan lah persoalan itu, dan kepada Allah –lah segala persoalan itu
dikembalikan”, sebagaiman Allah berfirman, “ Jangan (berbuat
demikian). Apabila bumi diguncangkan berturut-turut dan datanglah
Tuhanmu, sedangkan malaikat berbaris-baris, dan pada hari itu diperlihatkan
neraka jahanam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna
lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan, ‘ Alangkah baiknya jika aku dahulu
mengerjakan (amal shaleh) untuk hidupku ini.” ( al-Fajr :21-24)
Berkaitan dengan kejadian itu, Ibnu Jarir menuturkan
sebuah hadits yang akan dikemukakan intinya. Hadits itu diterima dari Abu
Hurairah, dari Rasulallah saw. Hadits ini terkenal dan dideretkan bukan hanya
oleh seorang dari berbagai sanad. Dalam hadits itu dikatakan,
“….Sesunguhnya tatkala manusia hendak menuju tempatnya di beberapa lapangan,
maka mereka akan meminta syafaat kepada Tuhan mereka melalui para nabi, satu
demi satu, mulai dari Adam kemudian kepada nabi yang sesudahnya. Semuanya
menyatakan tidak mampu untuk member manfaaat. Akhirnya sampailah mereka kepada
nabi Muhammad saw.. Ketika mereka menemuinya, beliau bersabda, ‘Aku akan
memintakan syafaat …aku akan memintakannya.’ Kemudian beliau pergi dan
bersujud kepada Allah dibawah Arasy. Beliau memberikan syafaat, pada sisi Allah
untuk tampi menyelesaikan permasalahan diantara para hamba. Dia menjadkan nabi
dapat memberi syafaat, dan Dia datang dalam naungan awan dan malaikat.
Kedatangan-Nya itu terjadi setelah terbelahnya langit dunia dan turunnya
para malaikat yang ada disana. Kemudian terbelah pula langit kedua,
ketiga hingga langit ketujuh. Kemudian turu pula para malaikat yang memikul
Arasy dan malaikat karabiyun. Nabi bersabda,’ maka turunlah yang maha perkas
Azza wa jalla dalam naungan aan dan malaikat yag bergemuruh oleh suara tasbih
mereka yang mengatakan : ‘Maha suci pemilik kekuasaan dan seluruh kerajaan,
maha suci pemilik kegagahan dan keperkasaan, Maha suci Dzat yang hidup dan tdak
akan mati, mahasuci zat yang mematikan seluruh makhluk sedang Dia tidak akan
mati, Mahasuci, Maha qudustuhan para malaikat dan Jibril, Mahasuci dan
Mahaqudus kesucian Tuhan kami yang Maha tinggi, Mhasuci pemiik kekuasaan dan
kebesaran, dan Mahasuci…..Mahasuci….untuk selama-lamanya..selamanya”.
Al-Qur’an surat an-Naba ayat 31-36 juz 30
31. Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa mendapat
kemenangan, 32. (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur, 33. Dan gadis-gadis remaja
yang sebaya, 34. Dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman). 35. Di dalamnya mereka
tidak mendengar Perkataan yang sia-sia dan tidak (pula) Perkataan dusta. 36.
Sebagai pembalasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak,
Allah swt. menggambarkan tentang
orang-orang yang akan mendapatkan kebahagiaan beserta kemulian dan kenikmatan
abadi yang telah disediakan Allah Ta’ala bagi mereka. Allah swt.
berfirman, “ Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa mendapatkan kemenangan.
“ Ibnu Abbas mengatakan mafazan artinya berjalan-jalan, karena
selanjutnya Allah swt. berfirman,” Kebun-kebun dan buah anggur dan
gadis-gadis remaja yang sebaya ,” yaitu bidadari yang montok buah
dadanya. Mereka adalah gadis yang sebaya dan sangat mencintai pasanganya.
Allah swt. berfirman , “ Dan gelas-gelas yang
penuh,” berisi terus menerus, tak pernah kosong . ”Didalamnya mereka
tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak pula dusta,” sebagaiman
firman-Nya,” Didalam surga itu mereka saling memperebutkan piala yang
isinya tidak (kata-kata) yang tidak berfaedah dan tidak pula perbuatan dosa. ”(
ath-Thuur :23) yaitu, di dalam surga itu tidak terdapat kata-kata yang tidak
berfaedah dan tidak pula dosa dan dusta, bahkan surga merupakan tempat tinggal
yang dipenuhi dengan kesejahteran dan semua yang terdapat didalamnya selamat
dari berbagai macam kekurangan.
Allah swt. berfirman ,” Sebagai balasan dari
Tuhanmu dan pemberian yang cukup”. Yaitu semua yang disebutkan ini
merupakan balasan Allah terhadap mereka , dan Allah memberikannya kepada mereka
sebagai karunia, nikmat, kebaikan dan rahmt-Nya. “ Dan pemberian yang cukup”. Hisaban
dalam ayat ini arinya ‘cukup’. Arti ini terdapat dalam ungkapan hasbiyallah,
artinya ‘cukup Allah bagi diriku, tidak perlu yang lain’.
Dari penafsiran diatas kita dapat menarik kesimpulan
bahwa metode yang digunakan Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat Al-Qur’an adalah
sebagai berikut:
- Menafsirkan
Al-Qur`an dengan Al-Qur`an. Pendeknya, Ia menjelaskan satu ayat dengan
ayat yang lain, karena dalam satu ayat di ungkapkan dengan abstrak
(mutlak) maka pada ayat yang lain akan ada pengikatnya (muqayyad). Atau
pada suatu ayat bertemakan umum (’âm) maka pada ayat yang lain di
khususkan (khâsh). Ibnu Katsir menjadikan rujukan ini berdasarkan sebuah
ungkapan, “bahwa cara yang paling baik dalam penafsiran, adalah
menafsirkan ayat dengan ayat yang lain”. Pada contoh diatas yaitu surat
al-Baqarah ayat 47, al-Baqaah ayat 210 serta an-Naba ayat 35, Ibnu Katsir
menyitir ayat al-Qur’an ang lain untuk lebih jelas menafsirkannya.
- Menafsirkan
al-Qur`an dengan Sunnah (Hadits). Ibnu Katsir menjadikan Sunnah sebagai
referensi kedua dalam penafsirannya. Bahkan dalam hal ini, Ibnu Katsir
tidak tanggung-tanggung untuk menafsirkan suatu ayat dengan berpuluh-puluh
hadits –bahkan mencapai 50 hadits – kasus ini bisa dilihat ketika
menafsirkan surat al-Isrâ. Adapun pada contoh diatas terdapat pada surat
al-Baqarah ayat 210.
- Tafsir
Qur`an dengan perkataan sahabat. Ibnu Katsir berkata, jika kamu tidak
mendapati tafsir dari suatu ayat dari al-Qur`an dan Sunnah, maka
jadikanlah para sahabat sebagai rujukannya, karena para sahabat adalah
orang yang adil dan mereka sangat mengetahui kondisi serta keadaan
turunnya wahyu. Ia menjadikan konsep ini berdasarkan beberapa riwayat, di
antaranya atas perkataan Ibnu Mas’ud: “demi Allah tidak suatu ayat itu
turun kecuali aku tahu bagi siapa ayat itu turun dan di mana turunnya. Dan
jika ada seseorang yang lebih mengetahui dariku mengenai kitab Allah,
pastilah aku akan mendatanginya“. Juga riwayat yang lain mengenai
didoakannya Ibnu Abbas oleh Rasululllah saw, “ya Allah fahamkanlah Ibnu
Abbas dalam agama serta ajarkanlah ta’wil kepadanya“. Kita dapat
melihat pada surat an-Naba ayat 31 beliau menukil perkataan Ibnu Abbas.
- Menafsirkan
dengan perkataan tabi’in. Cara ini adalah cara yang paling akhir dalam
cara menafsirkan Al-Qur`an dalam metode bil-ma`tsur. Ibnu Katsir merujuk
akan metode ini, karena banyak para ulama tafsir yang melakukannya,
artinya, banyak ulama tabi’in yg dijadikan rujukan dalam tafsir. Seperti
perkataan ibnu Ishaq yang telah menukil dari Mujahid, bahwa beliau
memperlihatkan mushaf beberapa kali kepada Ibnu Abbas, dan ia
menyetujuinya. Sufyan al-Tsauri berkata, “jika Mujahid menafsirkan ayat
cukuplah ia bagimu”. Selain Mujahid, di antara ulama tabi’in adalah Sa’id
bin Jabir, Ikrimah, Atha’ bin Rabah, Hasan al-Bashri, Masruq bin al-Ajdi,
Sa’id bin Musayyab, Abu al-’aliyah, Rabi’ bin Anas, Qatadah, al-Dahhaak
bin Muzaahim Radliyall^ahu ‘anhum[3]. Kita dapat melihat pada surat al-Baqarah ayat
47 beliau menukil perkataan Mujahid.
4.2. Sikapnya terhadap Israiliyat
Sikap Ibnu Katsir dalam israiliyat sama dengan gurunya
Ibnu Taymiyyah, akan tetapi dia lebih tegas sikapnya dalam menghadapi masalah
ini. Sebagaimana ulama yang lain, Ibnu Katsir mengklasifikasikan israiliyat ke
dalam tiga jenis. Pertama, riwayat yang shahih dan kita harus
meyakininya. Pendeknya, riwayat israiliyat tersebut sesuai (baca: ada) dengan
apa yang di ajarkan oleh syari’at Islam. Kedua, riwayat yang
bersebrangan dengan Islam, berarti kewajiban untuk ditolak, karena riwayat ini
adalah riwayat dusta. Ketiga, riwayat yang tawaquf ditangguhkan.
Hal ini menuntut sikap untuk tidak meyakini 100 % dan menolak 100%. Sebagaimana
dijelaskan dalam hadits, “kabarkanlah oleh kamu tentang bani Israil karena
hal itu tidak mengapa bagi kamu…“. Dan hadits lain, “janganlah kamu
sekalian membenarkan mereka, juga jangan mendustakan mereka”. Untuk point
pertama dan kedua ibnu Katsir sepakat dengan ulama yang lain tapi untuk point
ketiga Ibnu Katsir kurang sepakat dalam tatanan realitanya. hal ini bisa kita
cermati, ketika beliau banyak mengedepankan tentang larangan periwatan
israiliyat yang Ia suguhkan dalam metode tafsirnya.
Begitu pula, Ia banyak melontarkan kritik terhadap
riwayat israiliyat, karena riwayat ini kurang mempunyai faidah baik itu dalam
permasalah keduniaan maupun problematika keagamaan. Berbagai trik Ia gunakan
dalam menghadapi riwayat ini. Seperti, tidak menyebutkan riwayat ini atau, kalaupun
ia ungkapkan ia sandarkan kepada orang yang mengatakannya. Lalu ia diskusikan
dan menjelaskan kelemahan serta sisi kekurangan riwayat ini
4.3. Referensi tafsirnya
Setelah diteliti oleh muhaqqiq dalam bidang tafsir dan
hadits, tafsir Ibnu Katsir sangat ilmiah dan kaya dengan referensi yang sulit
di dapat. Bahkan sekarang ada beberapa jenis referensi yang sudah tidak ada dan
sangat sulit dicari. Betapa karya ini kaya dengan ilmu yang menyimpan
mutiara-mutiara berharga, karena Ibnu Katsir menjadikan referensi karyanya yang
diambil dari berbagai disiplin ilmu, Baik itu tafsir, ilmu tafsir, hadits,
ilmu-ilmu hadits, lughah, sejarah, fiqh, ushul fiqh, bahkan geografi. Dari
hasil penelitian, tafsir ibn katsir menjadikan rujukannya tidak kurang dari 241
referensi yang terkumpul dari berbagai disiplin ilmu. Dari jumlah itu bisa
diklasifikasikan sebagai berikut:
- Kutub
al-muqaddasah; al-qur`an, at-taurat dan injil.
- Tafsir
dan ilmunya, tidak kurang dari 36 judul buku dari berbagai pengarang.
- Hadits,
syarh hadits dan ilmu-ilmunya terdiri dari 71 judul buku dari berbagai
pengarang.
- Fiqh
dan ilmu ushul fiqh yang terhipun dari 32 judul buku.
- Sejarah
tidak kurang dari 25 judul buku.
- Bahasa
dan disiplin ilmunya 4 judul buku.
- Kategori
berbagai disiplin ilmu terdiri dari 44 judul buku.
- Kategori
karya umum: 7 judul buku.
- Naql
langsung dari guru-guru ibn katsir.
- Kategori
umum yang tidak bisa dilacak kurang lebih 13 jenis.
4.4. Komentar para ulama
Dalam hal ini Rasyid Ridha berkomentar “ Tafsir ini
merupakan tafsir paling masyhur yang memberian perhatian besar pada
riwayat-riwayat dari para mufassir salaf, menjelaskan mana-mana ayat dan
hukumnya, menjauhi pembahasan masalah I’rab dan cabang-cabang balaghah
yang pada umumnya dibicarakan secara panjang lebar oleh kebanyakan mufassirin,
menghindar dari pembicaraan yang melebar pada ilmu-ilmu lain yang tidak
diperlukan dalam memahami al-Qur’an secara umum atau hukum dan
nasihat-nasihatnya secara khusus.”[4]. Imam
Suyuthi (w.911) berkata mengenai tafsir ibnu katsir, “lam yu-laf ‘alâ namthihi
mitsluhu“( belum pernah ada kitab tafsir yang semisal dengannya).
V. Keistimewaan metodologi Tafsir Ibnu Katsir
Keistimewaan tafsir Ibnu Katsir ini bisa kita jabarkan
ke dalam beberap point; pertama, nilai (isi) tafsir tersebut tidak hanya
tafsir atsari saja (bilma’tsur), yang menghimpun riwayat serta
khabar. Tapi beliau juga menghimpun referensi yang lain. Kedua, menghimpun
ayat-ayat yang serupa dengan menjelaskan rahasia yang dalam dengan
keserasiannya, keselarasan lafadnya, kesimetrisan uslubnya serta keagungan
maknanya. Ketiga, menghimpun hadits dan khabar baik itu perkataan
sahabat dan tabi’in. Dengan menjelaskan derajat hadits atau riwayat tersebut
dari shahih dan dla’if, dengan mengemukakan sanad serta mata rantai rawi dan
matannya atas dasar ilmu jarh wa ta’dîl. Pada kebiasaannya dia rajihkan aqwal
yang shahih dan menda’ifkan riwayat yang lain. Keempat, keterkaitan
tafsir ini dengan pengarangnya yang mempunyai kafabilitas mumpuni dalam
bidangnya. Ibnu Katsir ahli tafsir, tapi diakui juga sebagai muhaddits,
sehingga dia sangat mengetahui sanad suatu hadits. Oleh karenanya, ia
menyelaraskan suatu riwayat dengan naql yang shahih dan akal sehat.
Serta menolak riwayat yang munkar dan riwayat yang dusta, yang tidak bisa
dijadikan hujjah baik itu di dunia ataupun di akhirat kelak.
Kelima, jika ada riwayat israiliyat Ia
mendiskusikannya serta menjelaskan kepalsuannya, juga menyangkal kebohongannya
dengan menggunakan konsep jarh wa ta’dil. Keenam,
mengekspresikan manhaj al-salâfu al-shaleh dalam metode dan cara
pandang, sebagaimana yang tertera dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah.
VI. Kelemahan-kesalahan Wajar dalam Tafsir Ibnu Katsir
Dari analisa di atas, menurut saya terdapat
beberapa kekurangan dalam penafsiran Al-Qur’an yang dilakukan Ibnu Katsir,
yaitu diantaranya kurang membahas masalah I’rab dan ketatabahasaan dalam
menafsirkan aat-ayat dalam Al-Qur’an. Dari hasil penelitian yang dilakukan para
peneliti dari ualama al-Azhar terdapat beberapa catatan yang mengungkapkan
adanya kesamaran dalam karyanya yaitu
Memang catatan yang ditujukan kepada tafsir ini tidak
mengurangi keilmiahan dan nilai tafsir ini -insya Allah-. Dalam hal ini,
catatan tersebut di uraikan sebagai berikut:
- Kesalahan
dalam penyandaran. Contohnya, dalam tafsir surat Âli ‘Imrân:169. Ia
menyebutkan riwayat Ahmad; tsana Abdul Samad, tsana Hamâd,
tsana Tsabit, ‘an Anas marfû’an, “mâ min nafsin tamûtu laha…” al-hadits.
Ibn katsir berkata, “tafarrada bihi muslim min tharîq Hamâd“.
Hadits ini dikeluarkan oleh imam Muslim dari jalan Humed dan
Qatadah dari Anas. Imam Muslim tidak mengeluarkan hadits ini dari Tsabit
melalui jalur Anas. Sebenarnya yang meyendiri itu adalah riwayat Ahmad,
“tafarrada bihi ahmad min tharîq Hamâd“.
- Kesalahan
dalam nama sahabat yang meriwayatkan hadits, atau penyandaran hadits
kepada sahabat, padahal tidak terdapat hadits sahabat tersebut dalam bab
ini. Seperti, tafsir surat yusûf:5. Dalam penafsiran surat ini, Ia
mengungkapkan hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad dan sebagian
Ahli Sunan dari Muawiyyah ibn Haydah al-Qusyayrî sesungguhnya dia
berkata, Rasulullah bersabda, “al-Ru`ya ‘alâ rajuli thâ`ir mâ lam
tu’bar…..“. Seperti inilah yang tertera dalam musnad Muawiyyah ibn Haydah
yang diriwayatkan oleh imam Ahmad. Imam Abu Dawud, Imam Tirmidzi
dan Ibn Majah serta yang lainnya meriwayatkan hadits dari Abi Rizin
al-’Uqayli. Padahal hadits ini tidak diriwayatkan dari Muawiyyah,
melainkan dari Abi Rizin al-’Uqayli.
- Kesalahan
dalam mata rantai sanad. Contoh, tafsir surat al-An’am:59 dari ibn Abi Hâtim
dengan sanadnya kepada malik ibn Sa’îr, tsnâ al-A’mas, dari Yazid ibn Abi
Ziyad dari Abdullah ibn al-Harits dia berkata, “mâ fî al-ardli min
syajaratin….“. ibn Katsir berkata, seperti inilah ibn Jarir meriwayatkan
(11/13308), Ziyad ibn Yahya al-Hasani Abu al-Khathab.
Sementara dalam tafsir ibn katsir di dapati bahwa yang meriwayatkan itu,
Ziyad ibn Abdullah al-Hasani abu al-Khatab. Ini jelas keliru,
karena riwayat yang sebenarnya ialah Malik ibn Sa’ir melalui jalan Ziyad
ibn Yahya al-Hasani abu al-Khatab dari Ziyad.
- Kurang
menyentuh dalam menyandarkan riwayat. Contoh, sebagaimana yang Ia
ungkapkan dalam menafsirkan surat Âli ‘Imrân:180. Ia mengemukakan hadits,
“lâ ya`ti al-rajulu mawlâhu fayas`aluhu…“. Ibn Katsir merasa cukup
menyandarkan dalam periwayatannya kepada ibn Jarir dan Ibn Mardaweh.
Padahal, hadits ini diriwayatkan oleh imam Ahmad, Abu Dawud, Nasâ`i
dan yang lainnya, yang lebih utama untuk di sandarkan.
- Lupa
dalam menukil beberapa perkataan ulama. Contonya, tafsir surat al-A’raf:8.
Ia menyebutkan hadits riwayat imam Tirmidzi. Imam Tirmidzi mengomentari
hadits ini dengan ungkapan, “rawâhu tirmidzi wa shahhahahu“.
Padahal yang sebenarnya ialah, “rawahu tirmidzi wa qâla, hadza al-hadîts
hasan gharîb“.
VII. Penutup
Ibnu Katsir sebagai sosok ulama yang saleh telah
meninggalkan karya yang sangat bermanfaat sekali. lontaran keilmuan yang ia
lontarkan, merupakan gayung bersambut dari amanah yang telah diembankan kepada
ummat. Itulah salah satu tanggung jawab yang ia kontribusikan kepada kita.
Metode serta cara berpikirnya telah memperlihatkan dan mempersembahkan metode
yang dijadikan standar dalam penelitian, dan senantiasa dijadikan tolak ukur.
Dalam penelitian yang sederhana ini kami dapat
menyimpulkan bahwa tafsir Ibnu Katsir merupakan tafsir yang menggunakan
metodologi bil ma’tsur, bahkan merupakan tafsir bil ma’tsur yang mendapatkan
predikat termasyhur kedua setelah tafsir at- Thabari.
Tafsir ini memiliki banyak keunggulan diantaranya
yaitu kehati-hatian Ibnu katsir dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an, terlebih
kaitannya dengan Hadits atau Khabar yang kurang tsiqah. Beliau mencoba
sejauh mungkin untuk menghindarinya. Begitupun dengan Israilliyat.
Tidak ada gading yang tidak retak, begitupun dalam
tafsir ini. Sebagai buah karya dari manusia biasa, tentu saja dalam tafsir ini
ada kekurangannya yaitu kurangnya pembahasan mengenai i’rab dan
tatabahasa dalam penafsiran ayat, dan disamping ada beberapa kekeliruan diatas.
Tetapi ini tidak mengurangi kualitas tafsir ini.
Akhirnya semoga apa yang telah saya usahakan dapat
bermanfaat bagi kita semua, dan dapat memotivasi kita untuk lebih mentadaburi
Al-Qur’an. Atas kekurangannya saya mohon maaf. Wallahu waliyuttaufiq.
Daftar Pustaka
- Al-Qaththan,
Manna’, pengantar studi ilmu Al-Qur’an, terjemahan
Ainurrafiq, Jakarta : pustaka al-Kautsar, 2006, cet. I,
- Al
–Utsaimin , Muhammad Shalih dan Nashiruddin al-Albani, Belajar mudah
ilmu tafsir, terjemah Fariid Qusy, Jakarta : Daarus sunnah,
2005,
- Ar-Rifa’I,
Muhammad Najib, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Jakarta: GIP, 2000
- Katsir,
Ibnu, Tafsir Al-Qur’anul ‘adzim, Beirut : Daarul Jiil, 1991,
cet I
[1] www.
suryaningsih.worpress.com,/Desember 2008
[2] Ibnu
Katsir, Tafsir Al-Qur’anul ‘adzim, Beirut : Daarul Jiil, 1991, cet I
[3] Muhammad
bin Shalih al –Utsaimin dan Nashiruddin al-Albani, Belajar mudah ilmu
tafsir, terjemah Fariid Qusy, Jakarta : Daarus sunnah, 2005, hal. 67
[4] Manna’
al-Qaththan, pengantar studi ilmu Al-Qur’an, terjemahan Ainurrafiq,
Jakarta : pustaka al-Kautsar, 2006, cet. I, hal. 456