Senin, 04 Juni 2018

Potret Ramadhan



Oleh: Abdurrahman Rifki
Alhamdulillah, kita berjumpa kembali di bulan yang penuh kemuliaan dengan gaya bahasa agama ada tiga muatan yakni, pengampunan, rahmat, dan terbebas dari siksa api neraka. Terkait dengan bulan yang penuh kemuliaan ini, selalu yang dikejar adalah pahalanya baik secara fisik maupun ruhnya. Banyak sekali cara mendapatkannya secara formal pun saudara-saudara kita mampu melaksanakan rukun Islam yang ke-3. Penulis sendiri sebenarnya memahami kata berkah dan puasa. Dengan kata lain nash dalam al-Qur’an benar-benar di wajibkan untuk melaksanakannya. Penulis ketika melihat fenomena suasana ramadhan sangatlah sakral dan harus saling menghargai di dalamnya, namun banyak sekali orang-orang yang kurang memahami apa makna puasa, apakah hanya menahan lapar dan dahaga, atau hanya ingin memperebutkan pahala karena mumpung di bulan suci dan di hari-hari biasa tidak seperti bulan suci ramadhan. Nah, seketika membuat penulis ingin sekali memuat perkembangan puasa khususnya di daerah Indonesia.
Mengingat perjalanan di syariatkannya puasa tentu tidak lepas dari tradisi dan imunisasi (makna) puasa, ketika melihat kembali suasana hari terakhir puasa TERNYATA masih banyak sekali yang kurang memahami pemahaman puasa walaupun bukan sebiji seperti buah pisang. Nyatanya, penulis menyadari bahwa sebenarnya dalam lubuk hati orang Islam sendiri memahami kalau puasa itu sangatlah urgen dalam kehidupan terutama agama. Karena tiap agama memiliki epistem puasa yang berbeda-beda baik secara kualitas maupun kuantitas. Dalam segi biologis agaknya puasa hanya menahan makan dan minum, hewan pun juga bisa bahwakan lebih kuat ketimbang manusia. Secara garis besar bahwa, puasa memiliki 7 makna : 
1.    Menahan diri dari segala emosi (Muring-Muring)
Selain menahan haus dan lapar, di bulan Suci ini, berpuasa dianjurkan untuk juga menahan godaan diri dari segala bentuk emosi. Amarah, nafsu, dan emosi yang berlebih, dapat menyia-nyiakan kegiatan berpuasa. Maka dari itu, muslim dianjurkan untuk lebih banyak menghabiskan waktu untuk beribadah, tadarusan, meminta maaf pada orang lain dan memberikan maaf pada sesama.


  1. Menahan diri untuk tidak bergosip (Ngerasani)
Sesungguhnya tidak ada yang baik dalam bergosip, apalagi saat Ramadhan tiba. Karena, Nabi Muhammad shalallahu’alaihi Wassalam pernah bersabda, “Hindarilah oleh kalian perbuatan ghibah. Karena ghibah lebih besar dosanya daripada zina. Seseorang terkadang berzina kemudian bertaubat kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan diterima taubatnya oleh Allah. Sedang orang yang berbuat ghibah, dia tidak akan diampuni sampai orang yang dia ghibah-i memaafkannya”. Penulis mengutip dari kitab Ihya Ulumiddin, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali. Jilid 4, hal. 411.
  1. Melakukan ibadah dan siap sambut malam seribu bulan (Lailatul Qodar)
Malam Lailatul Qadar, tentu sebagai umat muslim tidak asing lagi dengan malam yang sesungguhnya terbaik dalam seribu bulan itu. Malam suci yang dinantikan bagi setiap insan manusia muslim, malam kemuliaan yang hanya dapat dibeli dengan amalan-amalan shaleh, seperti berpuasa, tilawah, tadarus al-Qur’an, berdoa, berdzikir, muhasabah diri dan amal ma’ruf lainnya untuk diri sendiri dan orang lain. Lakukanlah ibadah sebaik-baiknya pada bulan Ramadhan ini, Insya Allah jika kita terus bertaqwa kepada Allah SWT, kita berkesempatan untuk mendapatkan berkah istimewa dari malam Lailatul Qadar ini.
  1. Bulan al-Qur’an (Nuzulul Qur’an)
Bulan Ramadhan adalah saat turunnya kitab al-Qur’an. Nuzulul Qur’an atau malam disampaikannya wahyu kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril.
  1. Waktunya beramal
Janganlah kalian menyia-nyiakan Ramadhan dengan hanya menghamburkan uang untuk belanja baju baru, makanan nikmat tapi Anda melupakan diri untuk beramal. Niscaya puasa kita akan sia-sia. Sesungguhnya sungguh dahsyat pahala jika kita beramal di bulan Ramadhan ini.
  1. Tak semua orang wajib puasa
Meskipun puasa adalah salah satu dari lima rukun Islam, namun Allah SWT memberikan keistimewaan khusus kepada mereka yang sakit, anak-anak yang belum baligh, ibu hamil dan menyusui, menstruasi atau orang yang harus bepergian jauh dan berkondisi tidak memungkinkan untuk puasa. Mereka dapat memilih untuk menggantinya kemudian hari atau membayar fidyah, yang berarti mereka akan memberi makan orang yang tidak mampu.
  1. Detoks usus
Selama puasa, setiap racun yang tersimpan dalam lemak tubuh larut dan dikeluarkan dari tubuh. Sejumlah jurnal kesehatan mencatat, puasa di bulan Ramadhan bisa membersihkan lambung, usus, dan mengistirahatkan organ pencernaan lain. Itu sebabnya, Ramadhan disambut positif oleh paramedis. Jika dilakukan dengan benar, puasa dapat melepaskan endorfin yang meningkatkan kesehatan mental dan detoksifikasi organ.

Potret Ramadhan

Oleh: Abdurrahman Rifki Alhamdulillah, kita berjumpa kembali di bulan yang penuh kemuliaan dengan gaya bahasa agama ada tiga muatan...