Rabu, 25 September 2013

Makalah (Rijalul Hadist)



A.    Latar Belakang Penulisan
Ilmu Rijalul Hadits merupakan ilmu secara khusus membahas perawi hadits, di mana ilmu Rijalul Hadits memiliki dua anak cabang, yakni Ilmu Tarikh ar-Ruwah dan Ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil.[1]
Ilmu Rijalul Hadits dalam mengkaji para rawi pada dasarnya memiliki dua ruang bahasan. Pertama, biografi atau sejarah para rawi sebagai cakupan Ilmu Tarikh ar-Ruwah. Kedua, sebagai kelanjutan tahapan pertama, yakni mengkaji rawi dari aspek kualitas rawi. [2]
            Terkait dengan kajian ilmu rijalul hadits, disini penulis mencoba menelaah al-Kasyif Fii Ma’rifati man lahu riwayah fii al-kutubu al-Sittah. Sebagai pengkayaan terhadap wawasan keilmuan terutama di bidang hadits dan dapat dijadikan alat untuk emahami hadits lebih relevan dengan aspek-aspek kekinian. Oleh karena itu menelaah hadits dari beberapakitab hadits sangat diperlukan.
B.     Rumusan Masalah
Agar pembahasan dalam makalah ini tidak jauh dari indikator-indikator yang diharapkan dalam perkuliahan, terutama berkenaan dengan mata kuliah Ilmu Rijal Hadits, maka dirumuskan beberapa poin penting sebagai berikut:
1.      Siapakah adz-Dzahabi itu?
2.      Apa yang dikandungan dalam kitab al-Kasyif Fii Ma’rifati man lahu riwayah fii al-kutubu al-Sittah?.
3.      Bagaimana latar belakang penulisan kitab al-Kasyif Fii Ma’rifati man lahu riwayah fii al-kutubu al-Sittah?
4.      Bagaimana sistimatika penulisan kitab al-Kasyif Fii Ma’rifati man lahu riwayah fii al-kutubu al-Sittah?
5.      Di manakah kelebihan dan kekurangan kitab al-Kasyif Fii Ma’rifati man lahu riwayah fii al-kutubu al-Sittah?
C.    Signifikansi Penulisan
Secara teori penulisan makalah ada beberapa signifikansi, antara lain sebagai berikut:
1.      Menambah wawasan keilmuan terutama dalam bidang hadits dan yang berhubungan dengan kajian hadits.
2.      Megetahui dan memahami muatan-muatan yang dibahas dalam kitab hadits.
3.      Dapat mmengetahui langsung pemikiran tokoh hadits dari kitabnya yang kita bahas.
Sedangkan secara praktisnya, penulisan ini dapat menginspirator pembaca sebagai upaya mempelajari ilmu hadits secara lebih mendalam.
D.    Metode Penulisan
Makalah ini ditulis dengan cara menelaah langsung dari kitab aslinya yang terdapat di pdf atau yang terdapat juga di safwer al-muktab al-Syamilah. Adapun data-data selainnya didapat dari beberapa sumber yang mendukung disusunnya makalah ini serta yang berhubungan dengan kitab yang dibahas dalam makalah ini. Penulisan makalah ini dapat dikategorikan pada studi pustaka.






BAB II
PEMBAHASAN
A.    Siapakah adz-Dzahabi itu?
Nama adz-Dzahabi diambil dari nama lengkapnya abi abdillah Muhammad ibn ahmad adz-dzahabi al-dimasysyiqi.[3] Beliau berasal dari negara Turkmanistan, dan Maula Bani Tamim. Beliau dilahirkan pada tahun 673 H di Mayyafariqin Diyar Bakr. Ia dikenal dengan kekuatan hafalan, kecerdasan, kewara’an, kezuhudan, kelurusan aqidah dan kefasihan lisannya.
Sejak usia dini Adz-Dzahabi sudah senang menuntut ilmu. Ketika sudah masuk pada usia 18 tahun beliaumulaimenekankan perhatiannya pada dua bidang ilmu, yaitu Ilmu-ilmu al-Qur’an dan Hadits Nabawi. Beliau mencari ilmu ke Syam, Mesir, dan Hijaz (Mekkah dan Madinah), di sana adz-Dzahabi belajar kepada para ulama.
Adapun para ulama yang menjadi guru-guru beliau adalah:
1.    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
Yang beliau letakkan namannya paling awal di deretan guru-guru yang memberikan ijazah pada beliau dalam kitabnya, Mu’jam asy-Syuyukh. Beliau begitu mengagumi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dengan mengatakan, “Dia lebih agung jika aku yang menyifatinya. Seandainya aku bersumpah di antara rukun dan maqam maka sungguh aku akan bersumpah bahwa mataku belum pernah melihat yang semisalnya. Tida...! Demi Allah- bahkan dia sendiri belum pernah melihat yang semisalnya dalam hal keilmuan.” 
2.    Al-Hafizh Jamaluddin Yusuf bin Abdurman al-Mizzi
Adz-Dzahabi sering kali mengatakan kepada beliau dengan perkataan, “Dia adalah sandaran kami jika kami menemui masalah-masalah yang musykil.”
3.    Al-Hafizh Alamuddin Abdul Qasim bin Muhammad al-Birzali
Di antara murid beliau adalah Tajuddin as-Subki, Muhammad bin Ali al-Husaini, al-Hafizh Ibnu kasir, al-Hafizh Ibnu Rajab, dan masih banyak lagi selain mereka.
Al-Imam Ibnu Nashruddin ad-Dimasyqi berkata, “Beliau adalah Ayat (tanda kebesaran Allah) dalam ilmu rijal, sandaran dalam jarh wa ta’dil (ilmu kritik hadits) lantaran mengetahui cabang dan pokoknya, imam dalam qiraat, faqih dalam pemikiran, sangat paham dengan madzhab-madzhab para imam dan para pemilik pemikiran, penyebar sunnah dan madzhab salaf di kalangan generasi yang datang belakangan.” Ibnu Katsir berkata, “Beliau adalah Syaikh al-Hafizh al-kabir, Pakar Tarikh Islam, Syaikhul muhadditsin, beliau adalah penutup syuyukh hadits dan huffazhnya.” (al-Bidayah wa an-Nihayah, XIV: 225).
Adz-dzahabi meninggal pada malam Senin 3 Dzulqa’dah 748 H di Damaskus Syiria dan dimakamkan diPekuburan Bab ash-Shaghir.
Al-Imam adz-Dzahabi berkata:
Tidak sedikit orang yang memusatkan perhatiannya pada ilmu kalam kecuali ijtihadnya akan membawanya kepada perkataan yang menyelisihi Sunnah. Karena itulah ulama salaf mencela setiap yang belajar ilmu-ilmu para umat sebelum Islam. Ilmu kalam turunan dari ilmu para filosof atheis. Barangsiapa yang sengaja ingin menggabungkan ilmu para nabi dengan ilmu para ahli filsafat dengan mengandalkan kecerdasannya maka pasti dia akan menyelisihi para nabi dan para ahli filsafat. Dan barangsiapa yang berjalan di jalan yang dibawa oleh para rasul, maka sungguh dia telah menempuh jalan salaf dan menyelamatkan agma dan keyakinannya.
Adapun karya – karya adz-Dzahabi antara lain sebagai berikut:
1.      al-‘Uluww lil ‘Aliyyil Ghaffar.
2.       Taariikhul Islam.
3.       Mukhtashar Tahdziibil Kamaal.
4.       Al-Kaasyifu Fii ma’rifati Man Lahu Riwaayah Fil Kutubis Sittah.
5.       Mukhtashar Sunan al-Baihaqi.
6.       Halaqatul Badr Fii ‘Adadi Ahli Badr.
7.      Thabaqatul Qurra’.
8.      Tahdziibut Tahdziib.[4]
Selain karya-karya yang tertulis di atas masih banyak karya-karya lainnya yang tidak dicantumkan.
B.     Kandungan dalam kitab al-Kasyif Fii Ma’rifati man lahu riwayah fii al-kutubu al-Sittah
Kitab Al- Kaasyif ini terdiri dari 3 jilid besar[5]. Seperti kitab pada umumnya kitab ini diawali dengan muqaddimah. Selanjutnya pentahqiq menjelaskan siapa pengarang kitab ini dan karya- karyanya yang lain. Setelah itu dilanjutkan dengan mengenal kitab ini, di dalamnya dijelaskan isi kitab secara sepintas.
Kemudian kita dapat meneliti inti dari pembahasan kitab rijal hadis ini, diawali dengan pujian dan syukur kepada Allah dan shalawat serta salam kepada Baginda Rasulullah Saw. Disini penulis kitab menjelaskan bahwa “Kitab ini adalah kumpulan/ringkasan rijal hadits dalam kutubus sittah yaitu; shahihaini ditambah sunan yang empat (sunan abu daud, tirmidzi, nasa’i dan ibnu majah)
Jilid I terdiri dari 503 halaman, dimulai huruf ا dan diakhiri oleh huruf ز. Jilid II terdiri dari 501 halaman, dimulai huruf س diakhiri oleh huruf ق. Kemudian jilid III terdiri dari 624 halaman, dimulai ك diakhiri oleh huruf ي. Kitab ini juga dilengkapi dengan daftar isi untuk memudahkan pembaca mencari nama-nama rijal dalam kitab ini.
C.    Latar Belakang Penulisan al-Kasyif Fii Ma’rifati man lahu riwayah fii al-kutubu al-Sittah
Selaku seorang pecinta ilmu terutama ilmu al-Qur’an dan hadits nabawi, bahkan juga juga dikenal dengan sebagai seorang ulama yang sering melakukan perjalanan ke negeri-negeri lain untuk menuntut ilmu kecintaannya untuk belajar ilmu-ilmu yang berkaitn dengan hadits semakin terdorong. Sehingga adz-Dzahabi ini termutivasi untuk menulis sebuah kitan rijal ini. Seperti yang telah penulis jelaskan di atas, bahwa Imam adz- Dzahabi adalah seorang pecinta ilmu terutama ilmu al-Qur’an dan Hadits Nabawi. Beliau juga dikenal sebagai seorang ulama yang sering melakukan rihlah ke negeri-negeri lain untuk menuntut ilmu.  Setelah melakukan rihlah yang cukup panjang seperti ke daerah Syam, Mesir, dan Hijaz (Mekkah dan Madinah), dan kecintaan terhadap hadis nabi, mendorong untuk menulis kitab ini. Alasan ini dijelaskan pengarang kitab di muqaddimah kitab ini.
D.    Sistematika Penulisan al-Kasyif Fii Ma’rifati man lahu riwayah fii al-kutubu al-Sittah
Susunan penulisan dalam kitab al-Kaasyif ini sama dengan kitab-kitab rijal hadis yang lainnya, yaitu:
1.    Bermula dari nama rawi yang berawal huruf alif dan diakhiri dengan huruf ya.
2.    Berawal dari rawi laki-laki dengan nama rawi huruf alif dan diahiri dengan rawi huruf ya’. Selanjutnya الكنى(Kunni/Kunyah)[6], selanjutnya الابناء, selanjutnya الانساب (Ansab), kemudian di tutup dengan النساء .
3.    Meskipun menggunakan secara abjad, dalam kitab ini juga diawali dengan rawi yang namanya Ahmad,seperti Ahmad bin Ibrahim al-Mausili. Baru setelah itu menurut abjadiyah seperti iban bin ishaq al-kuufi, Ibrahim bin adham dan seterusnya.
4.    Kitab ini juga dilengkapi dengan foot note untuk menjelaskan lebih detail tentang rawi yang disebutkanseperti laqab dan penisbatan nama rawi. Misalnya Ahmad bin Ibrahim “al-mausili” yaitu nama kampung di jazirah ‘Iraq.
5.    Menggunakan simbol-simbol, خ (bukhari), م (muslim), د (abu daud), ت (tirmidzi), س (nasa’i), ك (ibnu majah).[7]
E.     Kelebihan dan Kekurangan al-Kasyif Fii Ma’rifati man lahu riwayah fii al-kutubu al-Sittah
1.    Kelebihan
Kitab ini menggunakan sistematika abjadiyah, dengan demikian kita dengan mudah mencari perawi dengan nama awal huruf alif seperti halnya mu’jam atau kamus, terutama yang memiliki awal nama ahmad.
Selain itu kitab ini dilengkapi dengan footnote sebagai keterangan tentang rawi yang disebutkan dalam pembahasan.
2.    Kekurangan
Pertama kitab ini hanya terfokus pada rawi-rawi yang terdapat di kutubu al-Sittah sehingga tidak memuat rawi-rawi selain yang tidak terdapat di kitab kutubu al-Sittah. Kedua, tidak menjelaskan secara rinci mengenai biografi atau sejarah dari para rawi.
Meskipun demikian, kitab ini merupakan salah satu dari kitab yang mencoba memuat dari kitab kutubu al-Sittah. Sehingga pembahasannya sangat komprehensi dan representatif untuk dijadikan rujukan dalam kajian rijal hadits.











BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Kitab Al-Kaasyifu Fii ma’rifati Man Lahu Riwaayah Fil Kutubis Sittah ini dikarang oleh abi abdillah Muhammad ibn ahmad adz-dzahabi al-dimasysyiqi. Beliau adalah seorang ulama yang terkenal dalam bidang ilmu al-Qur’an dan Hadits Nabawi. Kitab ini adalah salah satu bukti bahwa beliau sangat menguasai bidang ilmu hadits.
Seperti kitab rijal hadits pada umumnya, kitab ini terdiri dari beberapa juz dan menggunakan susunanpenulisan Abjadiyah. Oleh karena itu, kitab ini layak dijadikan referensi dalam kajian ilmu rijalul hadits, karena memuat rawi-rawi yang secara spesifik di dalam kutubus sittah. Namun, sebagai hasil dari karya seseorang, kitab ini masih mengandung kelebihan dan juga kekurangan.
B.     Saran-saran
Jika adz-Dzahabi dalam menulis kitab al-Kaasyif terdapat sisi kelebihan dan kekurngan, maka penyusun dari makalah ini tentu lebih banyak mengandung kekurangan mengenai kitab al-Kaasyif. Akan tetapi pembaca adalah seseorang yang lebih cerdas dan lebih paham akan isi yang diterdapat di kitab al-kaasyif tersebut. Oleh karena itu, sangat diharapkan saran maupun kritikan baik secara langsung ataupun tidak langsung.
Pembaca yang cermat labih baik dari pada penulis yang tidak mau menerima saran dan kritikanterhadap  apa yang ditulisnya.





                                                           DAFTAR PUSTAKA
Adz-Dzahabi, al kaasifu Fii ma’rifati Man Lahu Riwaayah Fil Kutubis Sittah, Kairo: Dar al-nasr al-thaza’ah, 1972.
Suryadi, Metodologi Ilmu Rijalil Hadits, Yogyakarta: Madani Pustaka, 2003.
Nurdiansyah, Ilham, dalam makalah Usd al-Ghabah fi ma’rifati ash – shahabah     Yogyakarta: TH 2008.


[1] Suryadi, Metodologi Ilmu Rijalil Hadits (Yogyakarta: Madani Pustaka, 2003 ), hlm. 2
[2] Suryadi, Metodologi Ilmu Rijalil Hadits, (Yogyakarta: Madani Pustaka, 2003) hlm. 2
[3] Lihat al-Kasyif Fii Ma’rifati man lahu riwayah fii al-kutubu al-Sittah atau di softwer muktab al-samilah maupun juga di pdf.
[4] http://ahlulhadist.wordpress.com. Diakses, 02 Desember 2011 pukul 10.34
[5] Dapat kita akses di koleksi referensi perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dan dapat juga diakses di software Maktabah Syamilah atau CD-Rom kitab rijal hadits.
[6] Kuniah yaitu; sebuah nama panggilan yang dipermulaannya ada: ab (aba, abi, abu) ibn, atau bint dan um. Lihat Totok Jumantoro, Kamus Istilah Ilmu Hadis, (Jakarta: Bumi Aksara, 2002) hlm.102.
[7] Adz – dzahabi, al kaasifu ... (Kairo: Dar al-nasr al-thaza’ah: 1972) hlm. 49

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Potret Ramadhan

Oleh: Abdurrahman Rifki Alhamdulillah, kita berjumpa kembali di bulan yang penuh kemuliaan dengan gaya bahasa agama ada tiga muatan...