قال رسول الله
ص. م.
احبب حبيبك هونا ما عسي ان يكو ن بغيضك يوما ما وابغض بغيضك هونا ما عسي ان يكو ن حبيبك يوما ما
(رواه الترمذي)
احبب حبيبك هونا ما عسي ان يكو ن بغيضك يوما ما وابغض بغيضك هونا ما عسي ان يكو ن حبيبك يوما ما
(رواه الترمذي)
Artinya
:
Rosullah Saw, bersabda, Cintailah kekasihmu sewajarnya saja karena bias saja suatu saat nati ia akan menjadi orang yang kamu benci. Bencilah sewajarnya karena bias saja suatu saat nanti ia akan menjadi kekasihmu. (HR. Al-Tirmidzi).
Rosullah Saw, bersabda, Cintailah kekasihmu sewajarnya saja karena bias saja suatu saat nati ia akan menjadi orang yang kamu benci. Bencilah sewajarnya karena bias saja suatu saat nanti ia akan menjadi kekasihmu. (HR. Al-Tirmidzi).
قال رسول الله
ص. م.
ان المتحابين لتري غرفهم في الجنة كالكوكب الطالع الشرقي اوالغربي فيقال من هؤلاء فيقال هؤلاء المتحابون في الله عزوجل (رواه أحمد)
ان المتحابين لتري غرفهم في الجنة كالكوكب الطالع الشرقي اوالغربي فيقال من هؤلاء فيقال هؤلاء المتحابون في الله عزوجل (رواه أحمد)
Artinya:
Sesungguhnya orang-orang yang saling mencintai, kamar-kamarnya di surga nanti terlihat seperti bintang yang muncul dari timur atau bintang barat yang berpijar. Lalu ada yang bertanya, “siapa mereka itu?, “mereka itu adalah orang-orang yang mencintai karena Allah ‘Azzawajalla. (HR. Ahmad).
Sesungguhnya orang-orang yang saling mencintai, kamar-kamarnya di surga nanti terlihat seperti bintang yang muncul dari timur atau bintang barat yang berpijar. Lalu ada yang bertanya, “siapa mereka itu?, “mereka itu adalah orang-orang yang mencintai karena Allah ‘Azzawajalla. (HR. Ahmad).
قال رسول الله
ص. م.
مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم مثل الجسد اذا الشتكي منه عضو تداعي له سائر الجسد باالسهر والحمي (رواه مسلم)
مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم مثل الجسد اذا الشتكي منه عضو تداعي له سائر الجسد باالسهر والحمي (رواه مسلم)
Artinya:
Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal rasa saling mencintai, saling mengasihi, saling berkasih sayang adalah seperti satu tubuh yang ketika satu anggota tubuh itu ada yang mengeluh, maka seluruh tubuh meraa mengaduh dengan terus jaga tidak bias tidur dan merasa panas. (HR. Muslim).
Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal rasa saling mencintai, saling mengasihi, saling berkasih sayang adalah seperti satu tubuh yang ketika satu anggota tubuh itu ada yang mengeluh, maka seluruh tubuh meraa mengaduh dengan terus jaga tidak bias tidur dan merasa panas. (HR. Muslim).
قال رسول الله
ص. م.
والذي نفسي بيده لاتدخلون الجنة حتي تومنوا ولاتومنوا حتي تحابوااولاادلكم علي شيء اذا فعلتموه تحاببتم افشواالسلام بينكم (رواه مسلم)
والذي نفسي بيده لاتدخلون الجنة حتي تومنوا ولاتومنوا حتي تحابوااولاادلكم علي شيء اذا فعلتموه تحاببتم افشواالسلام بينكم (رواه مسلم)
Artinya:
Demi Dzat yang jiwaku berada di dalam genggaman-Nya, kalian tidak akan masuk surga sebelum kalian beriman. Kalian tidak akan beriman sebelum kalian saling mencintai. Tidakkah aku tunjukkan kepada kalian mengenai sesuatu yang ketika kalian melakukannya, maka kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian!. (HR. Muslim).
Demi Dzat yang jiwaku berada di dalam genggaman-Nya, kalian tidak akan masuk surga sebelum kalian beriman. Kalian tidak akan beriman sebelum kalian saling mencintai. Tidakkah aku tunjukkan kepada kalian mengenai sesuatu yang ketika kalian melakukannya, maka kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian!. (HR. Muslim).
عن رسول الله ص.
م. انه كان يقول في دعائه اللهم ارزقني حبك وحب من ينفعني حبه عندك اللهم مارزقتني
ممااحب فاجعله قوة لي فيماتحب اللهم ومازويت عني مما احب فاجعله فراغا لي فيما تحب
(رواه الترمذي)
Artinya:
Dari Rasulullah Saw. yang bersabda dalam satu doanya, “ya Allah, berilah aku rezeki cinta Mu dan cinta oran yang bermanfaat buat ku cintanya di sisiMu. Ya Allah segala yang Engkau rezekikan untukku diantara yang aku cintai, jadikanlah itu sebagai kekuatanku untuk mendapatkan yang Engkau cintai. Ya Allah, apa yang Engkau singkirkan diantara sesuatu yang aku cintai, jadikan itu kebebasan untuku dalam segala hal yang Engkau cintai. (H R. Al-Tirmidi)
Dari Rasulullah Saw. yang bersabda dalam satu doanya, “ya Allah, berilah aku rezeki cinta Mu dan cinta oran yang bermanfaat buat ku cintanya di sisiMu. Ya Allah segala yang Engkau rezekikan untukku diantara yang aku cintai, jadikanlah itu sebagai kekuatanku untuk mendapatkan yang Engkau cintai. Ya Allah, apa yang Engkau singkirkan diantara sesuatu yang aku cintai, jadikan itu kebebasan untuku dalam segala hal yang Engkau cintai. (H R. Al-Tirmidi)
Disunnahkan
orang yang mencintai saudaranya karena Allah untuk mengabari &
memberitahukan cintanya kepadanya. Hal ini berdasarkan hadist yang diriwayatkan
oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Ia berkata hadist ini hasan dari Miqdad bin
Ma’di dari Nabi Shalallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
“Jika
seseorang mencintai saudaranya karena Allah, maka kabarkanlah bahwa ia
mencintainya.”
Hadist
riwayat Abu Dawud dengan sanad yang shahih dari Anas bin Malik:
Ada
seorang laki-laki berada di dekat Nabi Shalallaahu ‘alaihi wa sallam, kemudian
kepadanya lewat seorang yang lain. Laki-laki yang di dekat Rasulullaah
Shalallaahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Wahai Rasulullaah Shalallaahu ‘alaihi
wa sallam! Sungguh aku mencintainya.” Maka Rasulullaah Shalallaahu ‘alaihi wa
sallam bertanya, “Apakah engkau sudah memberitahukannya?” Ia menjawab, “Belum”
Rasulullaah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Beritahukanlah kepadanya!”
Kemudian ia mengikutinya dan berkata, “Sungguh aku mencintaimu karena
Allah.” Laki-laki itu pun berkata: “Semoga engkau dicintai Allah, yang
karena-Nya engkau mencintaiku.”
Hadist
riwayat Al-Bazaar dengan sanad hasan dari Abdullah bin Amr, ia berkata:
Rasulullaah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Siapa
yang mencintai seseorang karena Allah, kemudian seseorang yang dicintainya itu
berkata, “Aku juga mencintaimu karena Allah.” Maka keduanya akan masuk surga.
Orang yang lebih besar cintanya akan lebih tinggi derajatnya daripada yang
lainnya. Ia akan digabungkan dengan orang-orang yang mencintai karena Allah.”
Menurut
hadis Nabi, orang yang sedang jatuh cinta cenderung selalu mengingat dan
menyebut orang yang dicintainya (man ahabba syai’an katsura dzikruhu), kata
Nabi, orang juga bisa diperbudak oleh cintanya (man ahabba syai’an fa huwa
`abduhu). Kata Nabi juga, ciri dari cinta sejati ada tiga :
- lebih suka berbicara dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain,
- lebih suka berkumpul dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain
- lebih suka mengikuti kemauan yang dicintai dibanding kemauan orang lain/diri sendiri
Bagi
orang yang telah jatuh cinta kepada Allah SWT, maka ia lebih suka berbicara
dengan Allah Swt, dengan membaca firman Nya, lebih suka bercengkerama dengan
Alloh SWT dalam I`tikaf, dan lebih suka mengikuti perintah Alloh SWT daripada
perintah yang lain.
Dalam
Al-Qur’an cinta memiliki 8 pengertian berikut ini penjelasannya:
- Cinta mawaddah adalah jenis cinta mengebu-gebu, membara dan “nggemesi”. Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, maunya selalu berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia ingin memonopoli cintanya, dan hampir tak bisa berfikir lain.
- Cinta rahmah adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut, siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis rahmah ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding terhadap diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang kekasih meski untuk itu ia harus menderita. Ia sangat memaklumi kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya. Termasuk dalam cinta rahmah adalah cinta antar orang yang bertalian darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya. Dari itu maka dalam al Qur’an , kerabat disebut al arham, dzawi al arham , yakni orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang secara fitri, yang berasal dari garba kasih sayang ibu, disebut rahim (dari kata rahmah). Sejak janin seorang anak sudah diliputi oleh suasana psikologis kasih sayang dalam satu ruang yang disebut rahim. Selanjutnya diantara orang-orang yang memiliki hubungan darah dianjurkan untuk selalu ber silaturrahim, atau silaturrahmi artinya menyambung tali kasih sayang. Suami isteri yang diikat oleh cinta mawaddah dan rahmah sekaligus biasanya saling setia lahir batin-dunia akhirat.
- Cinta mail, adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara, sehingga menyedot seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung kurang diperhatikan. Cinta jenis mail ini dalam al Qur’an disebut dalam konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada yang muda (an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang lama.
- Cinta syaghaf. Adalah cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil dan memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf (qad syaghafaha hubba) bisa seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir tak menyadari apa yang dilakukan. Al Qur’an menggunakan term syaghaf ketika mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, istri pembesar Mesir kepada bujangnya, Yusuf.
- Cinta ra’fah, yaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan norma – norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak tega membangunkannya untuk salat, membelanya meskipun salah. Al Qur’an menyebut term ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra`fah menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kasus hukuman bagi pezina (Q/24:2).
- Cinta shobwah, yaitu cinta buta, cinta yang mendorong perilaku penyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Qur’an menyebut term ni ketika mengkisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan Zulaiha yang setiap hari menggodanya (mohon dimasukkan penjara saja), sebab jika tidak, lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan bodoh, wa illa tashrif `anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al jahilin (Q/12:33)
- Cinta syauq (rindu). Term ini bukan dari al Qur’an tetapi dari hadis yang menafsirkan al Qur’an. Dalam surat al `Ankabut ayat 5 dikatakan bahwa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan tiba. Kalimat kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa ma’tsur dari hadis riwayat Ahmad; wa as’aluka ladzzata an nadzori ila wajhika wa as syauqa ila liqa’ika, aku mohon dapat merasakan nikmatnya memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu. Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat al Musytaqin, Syauq (rindu) adalah pengembaraan hati kepada sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub), dan kobaran cinta yang apinya berada di dalam hati sang pecinta, hurqat al mahabbah wa il tihab naruha fi qalb al muhibbi
- Cinta kulfah. yakni perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik kepada hal-hal yang positif meski sulit, seperti orang tua yang menyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada pembantu. Jenis cinta ini disebut al Qur’an ketika menyatakan bahwa Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, la yukallifullah nafsan illa wus`aha (Q/2:286)
Begitu
banyak peluang yang Allah berikan, yang Rasulullah tunjukkan, untuk menjadi
mulia dengan cinta. Bukan menjadi mulia dengan cinta. Bukan menjadi terhina dan
terpuruk, karenanya. Semoga hadist-hadist cinta, yang barangkali sudah sering
kita baca, bisa mengantar kita untuk sedikit demi sedikit memahami cinta yag
menyelamatkan. Cinta yag menerbangkan kita ke surga-Nya, Insya Allah.
- Cinta yang menggugurkan dosa
“Sesungguhnya
seorang muslim apabila bertamu ke tempat saudaranya yang muslim, lalu ia
memegang tangannya (berjabat tangan) gugurlah dosa2 keduanya sebagaimana
gugurnya daun dan pohon kering jika ditiup angin kencang. Sungguh diampuni dosa
mereka berdua, meski sebanyak buih dilaut” . “La tahzan for Broken Hearted_
Asma Nadia”
- Cinta yang berbalas cinta
“Allah
SWT. berfirman, ” Pasti akan mendapat cintaKu orang-orang yang cinta-mencintai
karena Aku, saling kunjung-mengunjungi karena Aku dan saling memberi karena
Aku.” (Hadits Qudsi)”. “La tahzan for Broken Hearted_ Asma Nadia”
Diriwayatkan
oleh Hakim, Khatib, Ibnu Asakir, Dailami dan lainny; Rasulullah bersabda;
“Barang
siapa yang jatuh cinta, lalu tetap menjaga kesucian dirinnya, menyembunyikan
rasa cintanya dan bersabar hingga mati maka dia mati syahid.” Sungguh sangat
beruntung orang yang mencintai dengan kesucian diri dan berlindung dari godaan
syetan yang terkutuk. Tentunya orang yang menjaga cintanya yang suci hingga ia
meninggal dunia.
Rasullulah
SAW. Berpesan;
“cintailah
sesuatu itu dengan biasa-biasa saja, karena boleh jadi suatu saat nanti dia
akan menjadi sesuatu yang kamu benci, dan bencilah sesuatu yang tidak kamu
ketahui dengan biasa-biasa saja, karena boleh jadi suatu saat nanti dia akan
menjadi sesuatu yang kamu cintai (H.R. Bukhari, Abu Daud, Tirmizi, dan Ibnu
Majah, dari Abu Hurairah)
Betapa
sering aku mendengar dan membaca dua hadist ini. Tapi, kenyataannya betapa
susah sekaligus berat untuk melaksanakannya. Dua hadist yang senantiasa
berbicara tentang kesucian, kefitraan dan keagungan jiwa manusia dalam hal
membangun relasi dengan sesama manusia dimuka bumi ini, lebih khusus lagi bagi
kaum muda seperti aku ini.
Dalam
setia perjumpaan dengan siapapun, terkadang aku begitu cepat terpesona dengan
orang yang baru aku jumpai itu…(jatuh cinta pada pandangan pertama kalie ye…
^_^) Dan saat aku tahu, bahwa dia itu tidak begitu mempesona seperti yang aku
bayangkan, jadinya aku agak kecewa dikit… ^_^ Sehingga saat ini, setiap aku
mengalami perjumpaan, aku langsung teringat dengan sabda Rasullullah di awal
catatan ini, walaupun aku masih pada taraf belajar untuk mengamalkan sepenuh
jiwa dan kesadaranku… Bahwa apa yang di sabdakan oleh Nabi Muhammad
SAW itu adalah kebenaran sejati untuk keselamatanku di dunia yang fanah ini dan
di akhirat yang abadi dan kekal kelak…
Dalam
hidupku, sudah terhitung berapa kali aku jatuh cinta. (semuannya tak terbalas,
beberapa tersimpan masih di dalam hati yang lain MENOLAK aku dengan
berbagai, alasan… ^_^ tapi belum ada yang mau MENERIMA aku apa adanya,
katanya!) Setiap kali aku mencoba menjalani hubungan,selalu gagal. Faktornya
tentu saja banyak hal yang melatarbelakanginnya. Kalau pun berhasil membangun
hubungan, sampai mau melangsungkan pernikahan segala. Allah SWT juga
berkehendak lain. Allah belum men-takdir-kan aku untuk bersatu dengan dia (dia
yang bukan jodohku).
Saat
ini, (lebih kurang satu tahun ini) kalau menyangkut urusan asmara, perasaan
cinta dan benci, aku akan langsung teringat dengan hadist-hadist di awal
catatan sederhana ini…
Aku
Mau Belajar dan Harus Bisa Untuk Mengamalkan Hadist-hadist NABI MUHAMMAD SAW.,
di atas… Karena itu adala Jalan Kebenaran Menuju Cinta Sejati Atas Dasar
Keridhoan Sang Ilahi. Allah SWT.
Catatan
Tambahan:
Aku
juga sering mendengar hadits-hadits dari kekasih Allah SWT berikut ini,
“Sesungguhnya Allah berfirman di hari kiamat, “Di mana orang-orang yang saling
mencintai karena keagungan-Ku? Hari ini Aku naungi mereka dengan naungan-Ku di
saat tak ada naungan lain kecuali naungan-Ku”. (HR Muslim). Pada kesempatan
lain, Rasulullah SAW mengatakan, “Barangsiapa yang ingin mencicipi manisnya keimanan,
hendaklah ia mencintai seseorang, yang tidak ia cintai kecuali karena Allah”.
(HR Ahmad). Dan dalam haditsnya yang lain beliau bersabda, “Tidaklah seorang
hamba Allah mencintai hamba Allah karena Allah, kecuali dia akan dimuliakan
oleh Allah”.
Semoga
kita termasuk hamba-hamba Allah yang mendapat naungan-Nya di hari itu…
Ada
tiga perkara yang apabila terdapat pada diri seseorang, niscaya dia akan
merasakan manisnya iman, yaitu Allah & Rasul-Nya lebih dia cintai dibanding
yang lain ; dia tidak menyukai seseorang kecuali karena Allah; dia tidak ingin
terjerumus ke dalam kekafiran sebagaimana ia tidak ingin di lempar ke dalam
kobaran api” (HR Bukhori dan Muslim)
أحبك حبين حب
الـهوى # وحب لأنك أهل لذاكا
وأما الذي هو حب
الهوى # فشغلي بذكرك عمن سواكـا
وأما الذي أنت
أهل له # فكشفك لي الحجب حتى أراكا
فلا الحمد في ذا
أو ذاك لي # ولكن لك الحمـد في ذا وذاكـا
Aku
mencintai-Mu dengan dua cinta
Cinta
yang timbul dari kerinduan hatiku dan cinta dari anugrah-Mu
Adapun
cinta dari kerinduanku
Menenggelamkan
hati berzikir pada-Mu daripada selain Kamu
Adapun
cinta yang dari anugrah-Mu
Adalah
anugrah-Mu membukakan tabir sehingga aku melihat wajah-Mu
Tidak
ada puji untuk ini dan untuk itu bagiku
Akan
tetapi dari-Mu segala puji baik untuk ini dan untuk itu”.
إلهى لو كنت أعبدك
خوفا من نارك فأحرقني بنار جهنم
وإذا كنت أعبدك
طمعا في جنتك فأحرمنيها
وإما كنت أعبدك
من أجل محبتك فلآ تحرمني من مشاهدة وجهك
“Wahai,
Tuhan! Apabika aku beribadah kepada-Mu hanya karena takut kepada neraka-Mu maka
bakarlah aku di neraka-Mu. Dan apabila aku beribadah kepada-Mu hanya
menginginkan surga-Mu maka keluarkanlah aku dari surga-Mu. Tetapi, jika aku
beribadah kepada-Mu hanya untuk-Mu semata, berikanlah kepadaku keindahan-Mu
yang abadi “.
Menurut
ulama salaf, sebagaimana yang dikutip oleh al-Qusyayri, kecintaan seseorang
kepada Allah itu suatu kondisi yang dirasakan hatinya, yang sulit diungkapkan
dengan kata-kata. Sedang menurut al-Qurasyi, hakikat cinta itu jika kamu
memberi, maka kamu memberikan semua yang kamu miliki kepada orang yang kamu
cintai, tanpa tersisa sedikit pun. Bagi al-Muhasibi cinta itu sebagai rasa
kecenderunganmu kepada sesuatu secara keseluruhan, kemudian kamu lebih
mementingkan cinta itu daripada dirimu, jiwamu atau hartamu, kemudian
kesetiaanmu padanya, baik ketika berada di tempat sunyi atau di tempat terbuka,
kemudian dia memberitahukan kepadamu tentang keteledoran cintamu.
Menurut
Asmaran AS dalam Pengantar Studi Tasawuf:
Sesungguhnya
mahabbah itu bersumber dari iman. Karena itu, dari imanlah orang dapat
mencintai Allah sebagai cinta tingkat pertama, kemudian baru cintanya kepada
sesuatu yang lain. Dengan demikian, berarti orang yang mencintai Allah, tidak
akan mengorbankan hukum Allah karena kepentingan pribadinya. Dan sebagai
konsekuensi dari cintanya kepada Allah, ia juga mencintai rasul-Nya, dan juga
harus mencintai seluruh makhluk-Nya.
Dia,
yang mengutip Abu Nashr al-Tusi, dalam Al-Luma` melanjutkan dengan membagi
al-mahabbah menjadi 3 (tiga) tingkatan
1.
Cinta orang banyak (biasa, pen.), yakni mereka yang sudah kenal pada Tuhan
dengan zikr, suka menyebut nama-nama Allah dan memperoleh kesenangan dalam
berdialog dengan Tuhan. Senantiasa memuji Tuhan.
2.
Cinta para mutahaqqiqin, yaitu mereka yang sudah kenal pada Tuhan, pada
kebesaranNya, pada kekuasaanNya, pada ilmuNya dan lain sebagainya. Cinta yang
dapat menghilangkan tabir yang memisahkan diri seseorang dengan Tuhan. Dengan
demikian ia dapat melihat rahasia-rahasia yang ada pada Tuhan. Ia mengadakan
dialog dengan Tuhan dan memperoleh kesenangan dari dialog itu. Cinta yang kedua
ini membuat orangnya sanggup menghilangkan kehendak dan sifat-sifatnya sendiri,
sedangkan hatinya penuh dengan perasaan cinta pada Tuhan dan selalu rindu
pada-Nya.
3.
Cinta para siddiqin dan ’arifin, yaitu mereka yang kenal betul pada Tuhan. Yang
dilihat dan dirasa bukan lagi cinta, tetapi diri yang dicintai. Akhirnya
sifat-sifat yang dicintai masuk ke dalam diri yang mencintai .
Definisi
cinta dari uraian di atas adalah menurut para ulama’ salaf. Dan cinta yang
dimaksud di atas adalah cinta kepada Allah. Terus apa sich makna cinta menurut
yang lain ?
- Menurut kamus besar bahasa Indonesia Cinta berarti senang sekali, sayang sekali, suka sekali.
- Menurut teman saya yang bijak cinta itu memberi apa yang sudah menjadi hak orang yang kita cinta, dan meminta dari orang yang kita cinta apa yang sudah menjadi hak kita.
- Menurut Kahlil Gibran cinta tidak punya makna selain mewujudkan maknanya sendiri. Cinta tidak memberikan apa-apa pada manusia, kecuali keseluruhan dirinya, dan cintapun tidak mengambil apa-apa dari manusia, kecuali dari dirinya sendiri.
Nah
sekarang menurut pendapat saya cinta itu adalah fitrah manusia yang diberikan
oleh Allah, perasaan ingin menyayangi, ingin melindungi, ingin memberi, pokoknya
ingin memberikan yang baik-baik kepada sesuatu yang kita cinta. Jadi Insya
Allah semua manusia dan makhluk yang ada di bumi ini punya cinta. Jadi kalau
kita ada yang bilang hewan tidak punya cinta mungkin karena kita tigak tahu
bahasa hewan, tidak bisa berinteraksi dengan hewa. Maka beruntunglah manusia
yang memiliki rasa cinta yang besar.
Mungkin
dari pembaca ada yang mau menambahkan makna cinta menurut pembaca. Silahkan…
Sedang
menurut al-Qurasyi, hakikat cinta itu jika kamu memberi, maka kamu memberikan
semua yang kamu miliki kepada orang yang kamu cintai, …
Hakikat
Cinta K.H. Abdullah Gymnastiar Cinta adalah bagian dari fitrah orang yg
kehilangan cinta dia tak normal tetapi banyak juga orang yang menderita karena
cinta. Bersyukurlah orang-orang yg diberi cinta dan bisa menyikapi rasa cinta
dgn tepat.
Hikam:”Dijadikan
indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yg diinginkan yaitu
wanita anak-anak harta yg banyak dari jenis emas perak kuda pilihan binatang
ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup didunia dan disisi Allah
tempat kembali yg baik.” {Al-Qur`an: Al-Imron ayat 14} “Cintamu kepada sesuatu
menjadikan kamu buta dan tuli.” Cinta memang sudah ada didalam diri kita
diantara terhadap lawan jenis. Tapi kalau tak hati-hati cinta bisa menulikan
dan membutakan kita. Cinta yg paling tinggi adalah cinta krn Allah ciri adl
orang yg tak memaksakan kehendaknya. Tapi ada juga cinta yg menjadi cobaan buat
kita yaitu cinta yg lebih cenderung kepada maksiat. Cinta yg semakin bergelora
hawa nafsu makin berkurang rasa malu. Dan inilah yg paling berbahaya dari cinta
yg tak terkendali.
Islam
tak melarang atau mengekang manusia dari rasa cinta tapi mengarahkan cinta
tetap pada rel yg menjaga martabat kehormatan baik wanita maupun laki-laki.
Kalau kita jatuh cinta harus hati-hati krn seperti minum air laut semakin
diminum semakin haus. Cinta yg sejati adl cinta yg setelah akad nikah selebih
adalah cobaan dan fitnah saja.
Cara
utk bisa mengendalikan rasa cinta adl jaga pandangan jangan berkhalwat berdua-duaan
jangan dekati zina dalam bentuk apapun dan jangan saling bersentuhan. Bagi
orang tua yg membolehkan anak berpacaranharus siap-siap menanggung resiko.
Marilah kita mengalihkan rasa cinta kita kepada Allah dgn memperbanyak sholawat
dzikir istighfar dan sholat sehingga kita tak diperdaya oleh nafsu karena nafsu
yg akan memperdayakan kita. Seperti cinta padahal nafsu belaka.
sumber
: file chm bundel Tausyiah Manajemen Qolbu Aa Gym
. “Sesungguhnya
diantara hamba-hamba Allah itu ada beberapa orang yang bukan golongan nabi dan
syuhada, namun para nabi dan syuhada menginginkan keadaan seperti mereka,
karena kedudukannya di sisi Allah. Sahabat bertanya, “Ya Rasulullah tolong
beritahu kami siapa mereka?” Rasulullah SAW menjawab : “mereka adalah satu kaum
yang cinta mencintai dengan ruh Allah tanpa ada hubungan sanak saudara, kerabat
diantara mereka serta tidak adak hubunga harta benda yang terdapat pada mereka.
Maka demi Allah wajah-wajah mereka sungguh bercahaya, sedang mereka tidak takut
apa-apa dikala orang lain takut dan mereka tidak berduka cita dikala orang lain
berduka cita”. (HR. Abu Daud)
2. “Sesungguhnya
seorang muslim apabila bertemu dengan saudaranya yang muslim, lalu ia memegang
tangannnya (berjabatan tangan) gugurlah dosa-dosa keduanya sebagaimana gugurnya
daun dari pohon kering jika ditiup angin kencang. Sungguh diampuni dosa mereka
berdua, meski sebanyak buih dilaut”. (HR. Tabrani)
3. “Sesungguhnya
Allah SWT pada hari kiamat berfirman: “Dimanakah orang yang cinta mencintai
karena keagungan-Ku? Pada hari ini Aku akan menaungi dihari yang tiada naungan
melainkan naungan-Ku”. (HR. Muslim)
4. “Allah
SWT berfirman: “Pasti akan mendapat cinta-Ku orang-orang yang cinta- mencintai
karena Aku, saling kunjung mengunjungi karena Aku dan saling memberi karena
Aku”. (Hadits Qudsi)
5. “Bahwa
seseorang mengunjungi saudaranya di desa lain, lalu Allah mengutus malaikat
untuk membuntutinya. Tatkala malaikat menemaninya, ia berkata: “Kau mau
kemana?” Ia menjawab: “Aku ingin mengunjungi saudaraku di desa ini. “Lalu malaikat
bertanya: “Apakah kamu akan memberikan sesuatu kepada saudaramu?” Ia menjawab:
“Tidak ada, melainkan hanya aku mencintainya karena Allah SWT”. Malaikat
berkata: “Sesungguhnya aku diutus Allah kepadamu, bahwa Allah mencintaimu
sebagaimana kamu mencintai orang tersebut karena-Nya”. (HR. Muslim)
6. “Tiga
perkara, barangsiapa memilikinya memilikinya, ia dapat merasakan manisnya iman,
yaitu cinta kepada Allah dan Rasul melebihi cintanya kepada selain keduanya,
cinta kepada seseorang kepada Allah dan membenci kekafiran sebagaimana ia tidak
mau dicampakkan ke dalam api neraka”. (HR. Bukharim Muslim)
Referensi :
Referensi :
1. Riyadhu
Asholihin, Imam Nawawi
2. Shiroh
Nabawiyah, Syaikh Syaffiyyur Rahman Al Mubarakfury
3. Manajemen
Cinta, Abdullah Nashih Ulwan
4. Materi
Tutoring, FK UPN “Veteran” Jakarta
5. Materi
Tutoring Agama Islam, SMUN 1 Bogor
6. Materi
Khutbah Jum’at, Khairu Ummah
7. Taman
Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu, Ibnu Qoyyim al Jauziyah
Hadis
riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan memanggil Jibril dan berkata: Sesungguhnya Aku mencintai si polan maka cintailah dia! Jibril pun mencintainya. Kemudian dia menyeru para penghuni langit: Sesungguhnya Allah mencintai si polan, maka cintailah dia! Para penghuni langitpun mencintainya. Kemudian dia pun diterima di bumi. Dan apabila Allah membenci seorang hamba, maka Dia memanggil Jibril dan berkata: Sesungguhnya Aku membenci si polan, maka bencilah pula dia! Jibril pun membencinya. Kemudian dia menyeru para penghuni langit: Sesungguhnya Allah membenci si polan, maka bencilah kepadanya. Para penghuni langit pun membencinya. Kemudian kebencianpun merambat ke bumi
Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan memanggil Jibril dan berkata: Sesungguhnya Aku mencintai si polan maka cintailah dia! Jibril pun mencintainya. Kemudian dia menyeru para penghuni langit: Sesungguhnya Allah mencintai si polan, maka cintailah dia! Para penghuni langitpun mencintainya. Kemudian dia pun diterima di bumi. Dan apabila Allah membenci seorang hamba, maka Dia memanggil Jibril dan berkata: Sesungguhnya Aku membenci si polan, maka bencilah pula dia! Jibril pun membencinya. Kemudian dia menyeru para penghuni langit: Sesungguhnya Allah membenci si polan, maka bencilah kepadanya. Para penghuni langit pun membencinya. Kemudian kebencianpun merambat ke bumi
Cinta
Rasul
Ada salah satu nasehat yang saya dengar di pengajian tadi malam yang sangat menarik perhatian saya. Pertama, karena termasuk jajaran hadist ‘baru’ buat saya. Dan kedua, waktu disampaikan, penyampainya tidak memberikan keterangan yang lebih detail (mungkin dilupakan mengingat waktu yang sudah hampir habis). Jadilah membuat penasaran untuk mengkaji lebih jauh.
Hadist tersebut diriwayatkan dari Abu An-Nashr dan Dailami. Suatu riwayat yang asing buat saya. Thus, saya juga tidak punya referensinya, sehingga semakin menambah penasaran saya. Arti hadist tersebut kurang lebih begini, “Ajarilah anak-anak kalian atas tiga perkara, (1) cinta Nabi kalian, (2) cinta kepada keluarganya Nabi, dan (3) membaca alquran, maka sesungguhnya pembawa Alquran itu di dalam naungannya Allah pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya beserta para Nabi dan keluarga Nabi.”
Berkaca pada tema nasehat tsb yaitu menekankan masalah pembinaan usia dini, rasanya banyak yang harus kita lakukan. Menurut hadist di atas kelihatannya banyak orang tua yang belum mengajarkan masalah cinta kepada Nabi, apalagi keluarganya. Dan bagaimana bentuk cinta itu, kadang masih absurd buat kebanyakan kita. Kenapa saya katakan demikian? Nyatanya pada penyampaian dalil tersebut, penyampai (di tempat saya) tidak merinci dengan jelas bentuk dan cara mencintai Nabi dan keluarganya. Dan secara kontekstual hadist ini memang lebih menyorot pada poin ke 3 yaitu menguasai Alquran dan fadhilahnya. Oleh karena itu, perlu rasanya kita gali informasi bagaimana cara mencintai Nabi dan keluarganya, untuk kemudian kita bisa mengajarkannya.
Ada salah satu nasehat yang saya dengar di pengajian tadi malam yang sangat menarik perhatian saya. Pertama, karena termasuk jajaran hadist ‘baru’ buat saya. Dan kedua, waktu disampaikan, penyampainya tidak memberikan keterangan yang lebih detail (mungkin dilupakan mengingat waktu yang sudah hampir habis). Jadilah membuat penasaran untuk mengkaji lebih jauh.
Hadist tersebut diriwayatkan dari Abu An-Nashr dan Dailami. Suatu riwayat yang asing buat saya. Thus, saya juga tidak punya referensinya, sehingga semakin menambah penasaran saya. Arti hadist tersebut kurang lebih begini, “Ajarilah anak-anak kalian atas tiga perkara, (1) cinta Nabi kalian, (2) cinta kepada keluarganya Nabi, dan (3) membaca alquran, maka sesungguhnya pembawa Alquran itu di dalam naungannya Allah pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya beserta para Nabi dan keluarga Nabi.”
Berkaca pada tema nasehat tsb yaitu menekankan masalah pembinaan usia dini, rasanya banyak yang harus kita lakukan. Menurut hadist di atas kelihatannya banyak orang tua yang belum mengajarkan masalah cinta kepada Nabi, apalagi keluarganya. Dan bagaimana bentuk cinta itu, kadang masih absurd buat kebanyakan kita. Kenapa saya katakan demikian? Nyatanya pada penyampaian dalil tersebut, penyampai (di tempat saya) tidak merinci dengan jelas bentuk dan cara mencintai Nabi dan keluarganya. Dan secara kontekstual hadist ini memang lebih menyorot pada poin ke 3 yaitu menguasai Alquran dan fadhilahnya. Oleh karena itu, perlu rasanya kita gali informasi bagaimana cara mencintai Nabi dan keluarganya, untuk kemudian kita bisa mengajarkannya.
Salah
satu dalil yang sering saya dengar, awal-awal belajar mengaji dulu adalah
begini,” Man ahya sunnatii faqod ahabbanii, waman ahabbani kaana ma’ii fil
jannah – Barangsiapa yang menghidup-hidupkan sunnahku, sungguh dia cinta
kepadaku. Dan barangsiapa yang mencintai aku maka dia akan bersamaku di surga.”
(sayang saya belum menemukan referensinya). Bersandar pada dalil ini (jika
tidak dhoif), setidaknya menjadi sedikit jelas bagaimana kita mencintai Nabi
dan keluarganya. Masalahnya kita tidak lagi hidup sejaman dengan Nabi SAW.
Mudah – mudahan dalil ini bisa menjadi acuan buat kita. Jadi konteks mencintai
Nabi adalah dengan mengamalkan sunnah-sunnahnya. Terlebih di saat manusia yang
lain meninggalkannya. Mulai dari apa yang dikerjakan Nabi, apa yang disetujui
Nabi dan apa yang menjadi cita-cita (iqror) Nabi SAW. Inilah esensi cinta itu.
Tapi bagaimana memulainya?
Pertama,
di kita ada idiom tak kenal maka tak sayang. Jadi kenalkanlah kepada anak-anak
kita nama Nabi kita SAW beserta gelarnya. Juga nama istri-istrinya,
anak-anaknya dan cucu-cucunya. Saya berani bertaruh, banyak diantara kita yang
belum kenal gelar Nabi SAW, apalagi nama kesembilan istrinya. Pun kelima
anaknya dengan Khadijah. Jadi proses pengenalan ini saya anggap penting juga
dalam rangka mencintai Nabi SAW dan keluarganya. Bisa lewat cerita – tutur
tinular, dongeng pengantar tidur, tarikh islam atau cara lain yang inovatif.
Dengan tahu nama, dengan kenal nama, diharapkan mampu menumbuhkan sikap ta’dhim
terhadap Nabi SAW dan keluarganya. Irene Handono, mantan biarawati yang
membelot jadi islam, sering menceramahkan, ”Banyak diantara kita umat islam
yang kenal superman, batman, rambo, dora emon, dll, tapi jarang yang
mengidolakan bahkan tak kenal siapa itu Hasan, Husen, Fathimah Az-Zahra,
Khadijah, Ali dan sederet nama lain yang termasuk keluarga Nabi. Ironis,
sungguh ironis.
Nabi mempunyai nama Ahmad atau Muhammad dengan 5 julukan baginya, selain Al-Amin yang beliau sandang sebelum menjadi Nabi.
Dari Mut’im r.a. katanya :
Nabi mempunyai nama Ahmad atau Muhammad dengan 5 julukan baginya, selain Al-Amin yang beliau sandang sebelum menjadi Nabi.
Dari Mut’im r.a. katanya :
Rasulullah
Saw bersabda : ‘Sesungguhnya aku mempunyai beberapa nama: Aku Muhammad (yang
amat dipuji), *Aku Ahmad (yang banyak memuji)*, Aku yang penghapus karena aku
Allah menghapuskan kekafiran, Aku pengumpul yang dikumpulkan manusia dibawah
kekuasaanku dan aku pengiring yang *TIADA KEMUDIANKU SEORANG NABIPUN*.(HR.
Muslim)
Dari Abu Musa Al Asy’ari r.a. katanya :
Dari Abu Musa Al Asy’ari r.a. katanya :
‘Pernah
Rasulullah Saw menerangkan nama diri beliau kepada kami dengan menyebut
beberapa nama: Aku Muhammad, *Aku Ahmad*, Aku pengiring dan pengumpul, Nabi
(yang menyuruh) tobat dan Nabi (yang membawa) rahmat.’ (HR. Muslim)
Adapun
istri-istrinya, yang pertama Adalah Khadijah binti Khuwailid. Selanjutnya
sepeninggal Khadijah, Nabi memiliki 9 istri dan 2 budak sebagai berikut:
Saudah
binti Zum’ah
Aisyah
binti Abu Bakar
Hafsah
binti Umar Al-Khattab
Zainab
binti Jahsyin
Zainab
binti Khuzaimah
Ummu
Salamah (Hindun binti Abi Umaiyah)
Ummu
Habibah (Ramlah binti Abi Sufian)
Maimunah
binti Al-Harith
Shofiah
binti Huyayyin
Juwairiyah
Mariyah Al-Qibtiyah
Adapun anak-anak Nabi (kesemuanya dari Khodijah) adalah sebagai berikut:
Mariyah Al-Qibtiyah
Adapun anak-anak Nabi (kesemuanya dari Khodijah) adalah sebagai berikut:
Al-Qasim
Abdullah
Zainab
Ruqaiyah
Ummu Kultsum
Abdullah
Zainab
Ruqaiyah
Ummu Kultsum
Fatimah
Ibrahim (dari Mariyah Al-Qibtiyah)
Ibrahim (dari Mariyah Al-Qibtiyah)
Kedua
yang tak kalah penting adalah membacakan sholawat atas Nabi SAW dan
keluarganya. Hal ini banyak disinggung dalam hadist dan merupakan bentuk
konkret ujud cinta yang sebenarnya. Sholawat ini merupakan bentuk cinta yang
tidak kenal masa dan usia. Siapa saja dan kapan saja bisa melakukannya untuk
memanifestasikan rasa cinta dan senang kepada Nabi SAW beserta keluarganya.
Bahkan sebutan bakhil pun disematkan bagi mereka yang tidak mau membaca
sholawat Nabi. Sunan Tirmidzi meriwayatkan:
حَدَّثَنَا
يَحْيَى بْنُ مُوسَى وَزِيَادُ بْنُ أَيُّوبَ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ
الْعَقَدِيُّ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بِلَالٍ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ غَزِيَّةَ عَنْ
عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ حُسَيْنِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عَنْ
أَبِيهِ عَنْ حُسَيْنِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي
طَالِبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
الْبَخِيلُ الَّذِي مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ قَالَ أَبُو
عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ
…
dari Ali bin Abi Tholib, berkata dia, bersabda Rasulullah SAW, ”Orang yang
bakhil adalah orang yang ketika disebut aku di sisinya maka tidak mau membaca
sholawat dia atasku.”
Bagaimana
membaca sholawat? Ada yang panjang ada yang pendek, seperti bacaan sholawat
pada tahiyat sholat. Dan itulah yang kita pakai untuk mewujudkan cinta Nabi dan
keluarganya yaitu dengan membacakan sholawat di luar sholat, tentunya.
أَخْبَرَنَا
سَعِيدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ الْأُمَوِيُّ فِي حَدِيثِهِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ
عُثْمَانَ بْنِ حَكِيمٍ عَنْ خَالِدِ بْنِ سَلَمَةَ عَنْ مُوسَى بْنِ طَلْحَةَ
قَالَ سَأَلْتُ زَيْدَ بْنَ خَارِجَةَ قَالَ أَنَا سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ صَلُّوا عَلَيَّ وَاجْتَهِدُوا فِي
الدُّعَاءِ وَقُولُوا اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ
…dari
Musa ibnu Tholhah berkata dia, aku berkata pada Zaid ibnu Khorijah, dia berkata,
aku bertanya pada Rasululah SAW, maka bersabda Rasulullah SAW membacalah
sholawat kalian atasku dan mempersungguhlah kalian di dalam berdoa dan
berkatalah Alloohumma sholli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad. (Rowahu
Sunan Nasaai, Kitaabu As-Sahwi)
Nah,
baru yang ketiga secara keseluruhan kita bisa mengatakan berdasar dalil pertama
di atas untuk mewujudkan cinta Nabi dan keluarganya yaitu menghidupkan
sunah-sunahnya secara keseluruhan dan bertanggung jawab atas dakwah dan
cintanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar