Sikap
fatalisme atau berlebihan melahirkan kekerasan sikap terhadap sesama muslim,
apalagi kepada dengan orang non-muslim. Ini adalah gejala yang jama’,
kalau melihat semangat keislaman yang
menggelora dari generasi muda, sayangnya semangat ini memunculkan Islam sebagai
alternatif terbaik. Itu tidak diimbangi dengan pemahaman yang luas dalam ilmu
agama. Merasa ketika memperjuangkan “simbol”. Akan tetapi, mengabaikan terhadap
“esensi”. Karakter yang kemudian melekat adalah mudah menuduh kafir kelompok
lain yang tidak sepaham dengan pemikiran mereka.
Itulah
antara lain yang menginggap HT (partai Pembebasan), yang masuk di Indonesia
pada tahun 1980. Pada awal mula masuk Indonesia, HT mendapatkan respon yang
baik dari pemuda-pemuda kampus (target) yang sebagian dari mereka kurang
memiliki latar belakang yang mumpuni dalam hal ilmu penegatahuan Islam. HT
selalu mengaitkan apapun dengan khilafah adapun juga dengan kata “syariah”,
tentu juga dasar mereka menegakkan khilafah di dalam surah al-Maidah: 44, 45,
47, 49. Berembel-embel Islam seharusnya bisa mencerminkan pribadi yang baik dan
mengamalkannya. Indonesia adalah negara yang damai bukan negara Islam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar