|
Snouck Hurgonje dan Samuel Zwemmer
Oleh Dr. Abdul Mu'nim Muhammad Hasanain
Pengantar Redaksi Swaramuslim
Upaya melawan dan membendung penyakit pluralisme,
liberalisme, inklusifisme dan sebagainya, yang kini marak, sebenarnya sudah
dialakukan antara lain oleh Muhammadiyah melalui buku berjudul ORIENTALISME
ini.
Setelah hampir tiga puluh tahun, ternyata serangan
itu semakin gencar, bahkan kini Muhammadiyah sendiri terjangkiti penyakit
pluralisme, liberalisme, inklusifisme dan sebagainya itu, tidak saja melalui
komunitas mudanya yang bernaung di bawah bendera JIMM, juga melalui tampilan
beberapa tokoh Muhammadiyah seperti Syafii Maarif, Dawam Rahardjo, Moeslim
Abdurrahman, Sukidi dan sebagainya.
Redaksi Swaramuslim tertarik menerbitkan buku ini
secara elektronik, setidaknya untuk mengingatkan kita bahwa upaya membendung
dan melawan penyakit pluralisme, liberalisme, inklusifisme dan sebagainya
itu, yang pernah dilakukan senior-senior kita ternyata ternyata kalah pamor, juga
kekurangan energi. Sehingga penyakit itu kini bersimaharajalela.
Pengantar
Alhamdulillahi rabbil 'alamiin, washshalaatu
wassalaamu'ala Rasulillahi, Muhammadin wa ala aalihi washabihi ajma'iin amma
ba'du.
Sesungguhnya orang-orang mu'min terutama Ulama dan
para pemuka masyarakat yang di dalam memimpin ummat, menegakkan aqidah,
menuju kebahagiaan yang diredhai oleh Allah SWT sesuai dengan tujuan Agama
Islam yang digariskan Allah dan dipimpinkan oleh Rasul sebagai mubassyir,
naziir, dain ilallah biizinihi, wa sirajan muniiran –yang harus diwarisi oleh
Ulama-ulama dan Zu'ama Islam.
Untuk itu amatlah perlu bagi seorang mukmin,
terutama da'i untuk mengenal posisinya sendiri, juga strategi dan taktik
orang-orang di luar Islam.
Di samping ummat Islam melakukan da'wah, lebih
dahulu ia juga harus tahu tentang "apa dan siapa yang ingin menghambat
kemajuan Islam; karena yang menghambat itu berarti memusuhi Allah.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman dalam surat Al
Baqarah ayat 257:
"Allah adalah Pelindung (Pemimpin) bagi
orang-orang beriman; Dialah yang melepaskan mereka dari ZHULUMAAT (gelap
gulita dalam segala hal), ke dalam AN NUUR. Adapun orang-orang kafir,
pemimpin-pemimpin mereka adalah Thaghut (Syaithan). Syaithan itulah yang
menggiring mereka dari annur ke dalam zhulumaat; mereka itu adalah penghuni
Neraka, mereka kekal di dalamnya." (Al-Baqarah ayat 257).
Orang-orang beriman dalam menegakkan aqidah dan
ajaran Ilahi menuju keredhaan Allah; selalu mendapat rintangan, halangan dan
kesulitan; baik yang nyata maupun tersembunyi; yang halus maupun yang kasar;
menghadapi rayuan atau tekanan/paksaan yang datang dari orang-orang yang
pandai membohong, menipu dan membingungkan; dengan menggunakan bermacam
kekuatan, fasilitas dan mass media, yang berakibat langsung ataupun tidak
langsung terhadap ummat Islam; sehingga banyak di antara ummat Islam yang
terlalai, terlupa dan terpengaruh. Akibatnya kaum Muslimin tidak menyadari
bahaya yang dilancarkan oleh orang-orang yang tidak menyukai Islam; bahkan
sebagian kita merasakan seolah-olah faham dan sikap yang demikian sebagai
ajaran Islam yang murni.
Kalau dibiarkan begitu saja, akhirnya ummat Islam
yang sudah terbius seperti ini akan jatuh ke tangan orang lain tanpa
disadarinya; dan sebagian mereka sudah diperalat oleh orang luar Islam untuk
mensirnakan Islam itu sendiri. (Na'uzu billahi min zalik).
Untuk menghindarkan bahaya inilah kita ingin
mengemukakan beberapa masalah yang ada hubungannya dengan persoalan tersebut
di atas; yaitu "Bagaimana cara orang lain menghadapi Islam, melenyapkan
Aqidah dan sekaligus menggerogoti ummatnya."
Bersama ini kami sajikan sebagian dari
pendapat-pendapat dan fakta sejarah yang telah diteliti dari sumber AL
ISTISYRAAQ (ORIENTALISME) oleh Doktor Abdul Mu'nim Moh Hasanain, yang
menjelaskan sifat, sistim, cara dan strategi orang-orang yang tidak menyukai
Islam (Orientalis).
Semoga ummat Islam umumnya, Ulama, Zu'ama-zu'ama dan
cendekiawan serta sarjana Islam khususnya akan dapat mengetahui, menyadari
dan berhati-hati, supaya kita semua selamat dari cengkeraman orang-orang yang
tidak menyukai Islam dan memusuhinya.
Wabillahit taufiq wal hidayah.
Jakarta, 2 Jumadilakhir 1396 (10 Mei 1978) Lembaga Penelitian dan Perkembangan Agama (LPPA) MUHAMMADIYAH H. Abdul Malik Ahmad (Ketua) Anhar Burhanuddin (Sekretaris)
MUQADDIMAH
Orientalisme adalah suatu gerakan yang timbul di
zaman modern, pada bentuk lahirnya bersifat ilmiyah, yang meneliti dan
memperdalam masalah ketimuran. Tetapi di balik penelitian masalah ketimuran
itu mereka berusaha memalingkan masyarakat Timur dari Kebudayaan Timurnya,
berpindah mengikuti keinginan aliran Kebudayaan Barat yang sesat dan
menyesatkan.
Orientalis, adalah kumpulan Sarjana-sarjana Barat,
Yahudi, Kristen, Atheis dan lain-lain, yang mendalami bahasa-bahasa Timur
(bahasa Arab, Persi, Ibrani, Suryani dan lain-lain), temtama mempelajari
bahasa Arab secara mendalam. Studi ini mereka gunakan untuk memasukkan
ide-ide dan faham-faham yang bathil ke dalam ajaran Islam, agar aqidah,
ajaran dan da'wah Islam merosot, berkurang pengaruhnya terhadap masyarakat,
tak berbekas dalam kehidupan, tidak mampu mengangkat derajat kemanusiaan,
tidak berperan lagi untuk melepaskan manusia dari perhambaan pada makhluk,
dan tujuan Islam tak kunjung tercapai dalam mengeluarkan manusia dari
kegelapan-kegelapan (Zhulumaat: kufur, syirik, fasik, lemah, bodoh,
tertindas, miskin, dijajah, dianiaya, dan dalam keadaan terbelakang dalam
segala bidang) menuju An Nur (kebalikan dari Zhulumaat, yaitu bertauhid,
iman, kuat, pintar, cerdas, adil, aman, makmur, maju dan lain sebagainya).
Seperti kita ketahui, bahwa segala tipu daya dan
kebatilan yang mereka resapkan sedikit demi sedikit telah masuk ke dalam
kebudayaan Islam dan berakibat mengurangi peranan Islam dalam penyiaran ilmu
pengetahuan yang telah membawa Eropa dari zaman pertengahan (masa kebodohan
dan kegelapan) ke masa kejayaan masa modern (yang sekarang telah menjadi
kebanggaan para Sarjana Barat).
Pihak Orientalisme berusaha keras menyerang Islam,
dan menggerogoti da'wahnya, sebab mereka tidak mampu melepaskan diri dari
pengaruh nafsu hendak memusuhi Islam yang mereka warisi. Usaha mereka itu
tidak saja secara sembunyi-sembunyi dan menaburkan benih-benih keragu-raguan
terhadap sumber Islam, memasukkan kebatilan-kebatilan ke dalam ajaran
syari'at, menggiring ummat Islam ke dalam aliran fikiran yang sesat, dan
menyerang bahasa Arab (bahasa al Qur'an), tapi juga terang-terangan membantu
propaganda gerakan yang berselubung di bawah nama Islam yang menyesatkan.
Juga para Orientalis memonopoli semua mass media,
yang digunakan untuk membinasakan dan menjauhkan ummat Islam dari agamanya,
bahkan merusakkan putera-puteri Muslim yang belajar di sekolah-sekolah dan di
negeri mereka.
Di bawah ini akan kita uraikan bahaya Orientalisme
ini, tujuannya dalam memerangi Islam dan menggerogoti da'wah, alat yang
dipergunakannya dalam usaha mereka baik yang nyata maupun yang tersembunyi,
usaha dan langkah yang perlu kita lakukan untuk melegaskan bahaya, serta
tangkisan kita terhadap tipu daya musuh-musuh Islam dan lain-lainnya.
1. Timbulnya Orientalisme.
Salahlah orang yang berpendapat bahwa Orientalisme
gerakan ilmiyah yang tujuannya hanya memperdalam masalah ketimuran saja
(kepercayaan, adat dan peradabannya). Sebenamya Orientalisme hakekat dan
kenyataannya adalah alat Penjajah; tujuan Orientalisme ini ialah:
"memakai dan mempergunakan penelitian masalah ketimuran sebagai langkah
untuk menyerang/memerangi Islam, menimbulkan rasa keragu-raguan terhadap
sumber-sumber Islam agar ummat Islam berpaling dari agamanya, agar ummat
Islam jangan sampai pada kemuliaan dan kekuatannya, tetapi hanya selalu
mengekor kepada Barat, dan selalu taqlid masa bodoh dan apatis, melihat
segala macam jenis kejahatan dan kemerosotan di negeri mereka. I
Orientalisme ini hakekatnya adalah lanjutan dari
perang Salib, melawan Islam, sebab sebenarnya perang Salib ini belum
berhenti, tetapi hanya mengambil bentuk dan warna yang berbeda, di antaranya
Orientalis.
Orientalis muncul dengan kedok sebagai para ahli
untuk mengadakan riset dan survey tentang sesuatu bidang ilmu pengetahuan
dengan maksud tertentu untuk memasukkan berbaga macam fitnah, menebarkan
isue-isue; melampiaskan segala isi hatinya dan kedengkiannya terhadap Islam,
dan menulisi Islam dengan pena yang beracun.
Para Orientalis terang-terangan menolak sistim ilmu
Islam yang asli. Ini berakibat menyimpangnya ummat dari hakekat kebenaran,
dan meninggalkan hukum Islam. Orientalis tidak mungkin membiarkan Islam
terlaksana di tengah-tengah masyarakat.
Para Orientalis adalah antek-antek penjajah Barat
terhadap Negeri-negeri Timur dan Negeri Islam, karena gerakan Orientalis ini
adalah lanjutan dari Perang Salib dalam bentuk yang lain.
Gerakan Orientalis berkembang pesat dan sudah sampai
berlanjut selama dua abad, perubahan yang bergerak sebagai salah satu bentuk
penjajahan.
Asal kata "Orientalisme" bahasa Arabnya al
istisyraaq, mashdar fiil: Istasyraqa. Artinya, "mengarah ke Timur dan
memakai pakaian masyarakatnya."
Para Orientalis (al Mustasyriqun) mendalami
bahasa-bahasa Timur sebagai langkah untuk mengarah ke sana. Masing-masingnya
mempelajari satu bahasa atau bermacam-macam bahasa Timur, seperti bahasa
Arab, bahasa Parsi, bahasa Ibrani, bahasa Urdu, Suryani, Indonesia, Melayu,
Cina dan lain-lain. Sesudah itu mereka mempelajari bermacam-macam ilmu
pengetahuan, kesenian, adab/sastra, kepercayaan masyarakat yang mempunyai
bahasa tersebut di atas dan lain-lainnya. Bahasa Arablah yang menjadi sasaran
utama dari tujuan para Orientalis ini.
Memang para Orientalis sudah banyak yang mempelajari
bahasa Arab, dan menjadi spesialis dalam ilmu bahasa, seperti ahli Nahwu,
ahli Sharaf, ahli Sastra (Adab) dan ahli Balaghah. Kemudian mereka mulai
menjurus pada ilmu-ilmu Islamiyah, seperti: Aqidah, Syari'ah dan lain-lain,
dan seterusnya menambah Aqidah dan Syari'ah yang murni itu dengan
kebatilan-kebatilan untuk mengaburkan hakekat Islam dan memalingkan ummat
dari agamanya yang menunjukinya ke jalan kemajuan dan kemuliaan. Tujuan
tersebut telah terlaksana dan mempengaruhi kebudayaan negeri-negeri Islam.
Bukti yang paling jelas mengenai hubungan
Orientalisme dengan penjajahan yaitu bahwa pasaran Orientalisme sangat pesat
di Eropa, Amerika dan negara-negara yang ada kepentingannya dengan negara
Timur umumnya dan negara-negara Islam pada khususnya. Kesempatan yang lebih
luas lagi bagi Orientalisme di negara-negara jajahan digunakan untuk
mengendalikan peperangan di negara-negara Timur dalam segala bentuknya, yang
dikenal di zaman modern, baik perang bersenjata (militer) maupun perang
ekonomi, politik atau kebudayaan atau perang fikiran. Bahkan hampir tidak
terdapat Kedutaan-kedutaan Negara-negara Penjajah di negeri-negeri Timur dan
negara-negara Islam yang tidak ada di dalamnya. "Orientalis" yang
menduduki posisi/jabatan-jabatan strategis pada kedutaan itu, baik diplomat
atau pegawai biasa.
Sesungguhnya ikatan Orientalisme dengan penjajah dan
antek-anteknya menjadikan Orientalisme selalu meningkatkan usahanya dalam
menyesatkan Islam dan menggerogoti da'wah Islamiyah. Mereka menggunakan semua
alat, dalam penyesatan tersebut, sebab agama yang maha suci inilah
satu-satunya penghalang yang tangguh dalam menghadapi penjajahan dan
perhambaan kepada selain Allah.
Para Orientalis mengetahui betul dalam penelitiannya
terhadap Islam bahwa aqidah Islam menanamkan dasar-dasar yang kokoh sesuai
dengan fitrah kemanusiaan, umum dan logis, sesuai dengan akal yang lempang,
serta textnya (nash-nash) yang tegas, di mana tidak memungkinkan bagi akal
(otak) para ahli fikir dan failasuf untuk membatalkan pokok yang satu ini
dari sumbernya, apabila mereka sudah terbiasa dengan manhaj ilmu yang benar.
Justru karena itu sejak dahulu, sejak timbulnya, Orientalisme selalu
menanamkan bibit-bibit penyelewengan terhadap Da'wah Islam dengan memasukkan
kebatilan-kebatilan, dengan kedok penelitian dan pembahasan ilmiyah yang berselubung.
Dengan demikian nyatalah bahwa Orientalisme
merupakah pelindung musuh-musuh Islam, Penjajah, Atheis, Zionis dan
lain-lain. Di balik nama Orientalisme ini bernaung apa yang dikatakan
penganut faham Komunis yang berbahaya dan merusak itu, dan para penyokong
aliran-aliran atheisme di zaman modern. Mereka menghimpun segala kemarahan
dan kebencian terhadap Islam; lantaran Islam itu berasaskan Tauhid dan
merupakan Risalah Ilahiyah yang bertitik tolak dan memusatkan segala-galanya
kepada Allah. Semua Rasul Allah selalu memulai da'wahnya terhadap
kaum/ummatnya dengan perkataan: "Sembahlah olehmu Tuhan-mu; tak ada
Tuhan selain Dia."
Agama adalah fitrah yang diberikan Allah kepada
manusia, yang hakekat fitrah manusia pun sesuai dengan agama itu, dan Tauhid yang
sangat sesuai dengan jiwa manusia; hanya Iblis dan Syaithanlah yang
memalingkan dan mempengaruhi manusia kepada penyembahan thaghut, patung,
batu, syaithan, api, kuasa manusia, dan lain-lain.
Aqidah Islam adalah aqidah yang jelas dan tegas,
jauh dari keraguan dan sangkaan serta khayalan (imaginasi). Dengan aqidah
yang betul, manusia mampu mengendalikan hawa nafsunya; dan aqidah inilah yang
diperkokoh oleh akal supaya tetap baik dan sampai pada hakekat yang
sebenamya.
Dengan begitu jelaslah bahwa Orientalisme adalah
alat yang dipakai oleh musuh-musuh Islam yang ingin merusak dan menggerogoti
da'wah dan ajaran Islam yang sangat sesuai dengan fitrah manusia tersebut.
Para Orientalis berusaha keras memerangi Islam
dengan segala cara, gaya dan dayanya dan dengan berbagai bentuk; karena
tujuan mereka terang-terangan anti dan ingin menghancurkan Islam itu sendiri.
Syukur, Allah selalu melindungi ummat Islam dan menenangkan ummat Islam,
betapapun benci dan lihainya orang kafir.
2. Usaha Orientalisme Dalam Memerangi Islam Dengan
Bersenjatakan Ilmu.
Para Da'i dan Ummat Islam yang antusias terhadap
Da'wah Islamiyah patut sekali mengetahui dan mendalami usaha-usaha yang
dilakukan oleh para Orientalis dalam memerangi Islam sebab mereka itu
hakekatnya adalah musuh Islam yang paling keras.
Mereka (Orientalis) menjadikan ilmu sebagai alat
untuk menggerogoti da'wah Islam dan bersembunyi di balik topeng-topeng
pembahasan dan penelitian ilmiyah. Sebenarnya mereka itu memasukkan
bibit-bibit (benih-benih) kebatilan terutama sekali ke dalam Syari'ah
Islamiyah, masalah-masalah Fiqih, muamallah dan lain-lain, di mana dengan
sengaja mereka membikin hal-hal yang menyesatkan terhadap Angkatan Muda
Islam, yang belajar kepada mereka, memantapkan serta memberikan hal-hal yang
membuat orang bungkem dan merasa cukup terhadap fikiran-fikiran yang merusak
dan berbahaya, dan menarik secara halus agar para mahasiswa yang Belajar
dengan Orientalis dan yang belajar di negara-negara tersebut (Barat)
bergabung dengan mereka (Orientalis) dalam merusak dan mencari-cari kejelekan
Islam, tanpa mereka sadari. Bahkan ada Universitas Orientalis yang
mensyaratkan adanya kemampuan mahasiswanya untuk menjelaskan kejelekan Islam
bila mereka hendak mendapat degree kesarjanaan.
Adapun tulisan-tulisan para Orientalis yang
berkenaan dengan Risalah Islamiyah, Rasul-rasul lain-lain, tegas-tegas
membongkar rahasia kebenciannya yang terpendam terhadap Islam.
Salah satu contoh dapat kita kemukakan di sini,
yaitu "apa" yang ditulis oleh salah seorang Orientalis yang bernama
Gold Tziher (Buku-buku karangan Gold Tziher nii di zaman Belanda dijadikan
standard pengetahuan agama di Fakultas-fakultas Hukum). Untuk mengetahui
maksud jahat mereka dan peranannya dalam menindas Islam dan menggerogoti
da'wah Islamiyah dengan menggunakan ILMU sebagai alat dalam mencapai
tujuannya.
Orientalis tersebut mengatakan dalam buku yang
dikarang oleh Gold Tziher, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Dr.
M. Yusuf Musa dkk, berjudul AL AQIDAH WAS SYARI'AH FIL ISLAM, halaman 15,
berbunyi:
"... Maka pemberitaan-pemberitaan kegembiraan
oleh Nabi Arab itu bukanlah suatu yang baru, melainkan hanya merupakan
kutipan-kutipan yang diambilnya dari pengetahuan-pengetahuan dan pokok-pokok
fikiran agama-agama yang diketahuinya atau diperolehnya akibat hubungannya
dengan tokoh-tokoh Yahudi atau Kristen dan lain-lain. Hal itulah yang
berbekas dan berpengaruh pada Muhammad secara mendalam, yang menurut dia
(Muhammad) pantas sekali untuk membangunkan jiwa dan perasaan keagamaan yang
sejati di kalangan anggota-anggota kaumnya."
Ini adalah perkataan yang berbisa, yang
diulang-ulang oleh para Orientalist yang terang-terang benci/sentimen,
seperti: da'wah yang pernah dilancarkan oleh kaum Musyrikin sejak 14 abad
yang lalu, yang langsung dibalas oleh Allah SWT, sehingga Allah membongkar
rahasia, akal dan perbuatan jahat mereka, dalam surat Al Fufqan ayat 4-6:
Orang-orang Kafir itu berkata, "Ini tidak lain
dari kata-kata dongeng yang diadakan oleh Muhammad dan ditolong oleh kaum
lain; dengan perkataannya itu mereka sudah mengerjakan keaniayaan dan dosa
besar."
Orang Kafir itu berkata lagi, "Adalah dongeng
orang-orang dahulu kala yang dikutipnya; dan itulah yang didiktekan kepadanya
pagi dan sore (terus-menerus).
Katakanlah (hai Muhammad), Ajaran ini diturunkan oleh
Yang Maha Tahu rahasia langit dan bumi, dan Dia Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. (al Furqan 4-6).
Kemudian Allah membantah dan mematahkan
alasan-alasan musyrik tersebut dengan firman-Nya:
"Jika kamu ragu pada apa yang Kami turunkan
pada hamba-Ku, maka datangkanlah satu surat yang serupa Qur'an itu, panggil
saksi-saksimu yang selain Allah, jika kamu benar, andaikata kamu tidak
sanggup membuatnya, dan pasti kamu tak akan sanggup berbuat itu, maka
takutlah kamu pada api neraka yang sebagai kayu bakarnya ialah manusia dan
batu yang disediakan untuk orang-orang kafir." (al Baqarah 23).
Gold Tziher dan konco-konconya di kalangan
Orientalis adalah musuh Islam, melakukan pemurtadan seperti yang dilakukan
oleh orang-orang musyrik Quraisy dahulu kala yang bersikap menentang dan
angkuh. Sedangkan orang musryik Quraisy masih adil (sopan) dalam
pembangkangannya, dan akhirnya mereka itu masuk ke dalam agama Islam dan ikut
berjihad pada jalan Allah, dan pahlawan-pahlawan perang menghadapi
musuh-musuh Islam.
Adapun Orientalis selalu saja menyerang Islam,
menggerogoti da'wah dengan membikin keragu-raguan di dalam pemaham-an Al
Qur'an. Menimbulkan waham (pendangkalan faham) dengan memutarbalikkan fakta,
dengan membuat hadis-hadis palsu atau mengatakan sendiri bahwa Rasul sendiri
pernah melampaui ketentuan wahyu karena menasakhkan (membatalkan) wahyu yang
pernah turun dengan perintah Allah. Bbegitulah dakwaan Orientalis tersebut,
sebagaimana bisa dilihat pada buku berjudul Aqidah was Syari'ah fil Islam
karangan Gold Thiher halaman 41.
Jelaslah kebencian Orientalis ini, bahkan kebencian
itu sudah mempengaruhi otaknya, karena akalnya yang sehat sudah dipengaruhi
oleh hatinya yang benci, di mana dia mengakui bahwa Muhammad itu Rasulullah,
yang merubah Risalah Tuhan-nya atas perintah Tuhan karena situasi yang
memaksa. Apakah ini masuk di akal?
Siapakah Rasul yang membawa Risalah yang berani
mendustakan Allah, dan tetap sebagai Rasul? Tidakkah perkataan Orientalis
tersebut suatu kebencian yang merusak akalnya sendiri dan memutar-balikkan
fakta?
Tidakkah pernah orang yang benci itu membaca ayat
Allah yang menangkis tuduhan bohong orang musyrik, yang mengatakan bahwa
Muhammad mengada-adakan kebohong-hohongan? Yaitu surat Al-Haqqah ayat 44-47:
"Kalau dia (Muhammad) berkata kepada Kami
perkataan-perkataan yang lain, niscaya akan Kami tarik dia dengan kekuatan
dan kemudian akan Kami putuskan hubungan yang kuat itu dengannya, maka tidak
akan ada seorang pun yang mampu menghalanginya (membelanya)."
Permusuhan Orientalis terhadap Islam sudah nyata
sekali, baik melalui perkataan (lisan), tulisan-tulisan yang beracun, maupun
yang tersembunyi di dalam hatinya.
Ummat Islam harus bersikap hati-hati dan berusaha
membongkar kepalsuan, tipudaya kaum Orientalis yang berselubung di balik
semboyan "kebijaksanaan atau logika" dan ummat Islam wajib kerja
keras melaksanakan Risalah Islamiyah sampai meresap ke dalam akal fikiran dan
perasaan dan dapat diwujudkan dalam kenyataan hidup.
Kita membaca tulisan-tulisan Orientalis mengenai
Islam, kalau topiknya betul, dia masukkan kata-kata tuduhan di sana-sini,
maka berbuatlah dia ibarat pembunuh yang menyerang orang yang lengah.
Betapa banyak para ilmuwan Islam yang tertipu oleh
Orientalis ini, dan mentah-mentah mengambil keterangan, sebagai hukum positif
tanpa kritik, bahkan ikut serta bergabung dengan Orientalis tersebut dalam
memerangi Islam, penggerogotan Da'wah, penyesatan, dan menganggap itulah
teori atau program yang terbaik. Na'uzubillah min zalik.
Para Orientalis pada umumnya mempelajari Islam,
dengan niat untuk menghimpun tuduhan terhadap Islam dengan kedok, selubung
ilmiyah, penelitian dan survey tentang hakekat Islam, akan tetapi
kefanatikannya mengalahkannya dari mengatakan kalimat haq.
Maka untuk menghindari dirinya dari Taa'sub
(fanatik), kita harus berusaha menjadikan mereka Sarjana yang murni, yang
bersih dan tak palsu dan tidak zalim.
Kaum Orientalis dan pengikut-pengikutnya memang
berusaha menghimpun sifat-sifat positif dan negatif, tapi dalam penghimpunan
itu mereka tak mungkin lupa menyisipkan komentar-komentar yang menyesatkan.
Dari itu kita harus membaca karangan-karangan Orientalis dan lantas kita
koreksi dengan berhati-hati sebab mereka tak mungkin bersih dari pengaruh
sentimen nafsu pertentangan yang telah mereka warisi sejak zaman Perang
Salib, dan tak mungkin lepas dari usaha keras mereka memerangi Islam,
menggerogoti Da'wah kebenaran (membuktikan yang haq dan melenyapkan
kebatilan).
Islam selalu menghadapi musuh-musuh yang senantiasa
menunggu kesempatan di segala pihak, dan kaum Muslimin pun selalu menghadapi
musuh-musuhnya yaitu Orientalis, pewaris kaum salib yang memaksa ummat Islam
agar selalu sadar dan siaga. Para Da'i (juru Da'wah) wajib dilengkapi dengan
segala perlengkapan ilmu yang luas, mendalami serta mengetahui apa yang ada pada
musuh, supaya mereka dapat membela agama dari tipu daya musuh dan membatalkan
perbuatan jahat musuhnya. Allah selalu melindunginya.
Berikut ini dikemukakan pembahasan sekitar usaha dan
cara kaum Orientalis dalam memerangi Islam, memerangi ummat Islam dan
memalingkan mereka dari agamanya. Tapi Allah tetap menangkis tipu daya mereka
dan menjaga agama yang diridhoi-Nya.
CARA ORIENTALISME MENGGEROGOTI DA'WAH ISLAM
1. Kristenisasi
Tak diragukan lagi oleh ummat Islam, bahwa Perang
Salib belum berakhir, sejak Eropa keluar dari keterbelakangannya di zaman
pertengahan mereka menuju ke timur dan menjadikannya daerah-daerah jajahan.
Penjajah bermaksud menguasai negeri dan rakyatnya,
kemudian menghancurkan Aqidah yang sudah bersemi di hati ummat Islam.
Melalui Orientalisme, penjajah menanamkan perasaan
bahwa Islam berbahaya bagi programnya. Program yang digariskannya dengan
tujuan hendak mematikan nilai kemanusiaan di negeri jajahan, supaya lenyap
perasaan kemanusiaan di sana, sehingga tidak akan timbul bibit-bibit perlawanan
menghadapi penjajah yang sudah memonopoli negeri itu, dan program yang
bertujuan mematahkan hal-hal yang peka pada jiwa ummat Islam yaitu faham
Wahdaniyah yang tidak mau tunduk pada selain Allah.
Justru karena itulah penjajah menebarkan hal-hal
yang menyerang Islam secara rahasia melalui Orientalis, terbukti dengan
mobilisasi tentara di bawah pimpinan Orientalis, mendrop para propagandis ke
negeri-negeri Islam dan melindunginya dengan tentara-tentara penjajah,
mengatur posisinya dan propagandanya di kota-kota dan kampung-kampung,
membantu mereka dengan uang, atau mendirikan rumah sakit, rumah jompo dan
sekolah-sekolah; sebagai alat jaringan penyesatan. Mereka bersembunyi di
balik kedok demi melepaskan masyarakat dari kemiskinan dan kebodohan, dengan
kedok yang.bernama Al Masih.
Di samping sasarannya yang lain, ialah membasmi
bahasa Arab dan mencabutnya dari ummat Islam, bahasa Al Qur'an konstitusi
Agama. Dalam mencapai tujuannya, penjajah membujuk orang-orang yang ahli
bahasa Barat, lantas diberi jabatan dan posisi penting, untuk mendorong
semangat ummat Islam berlomba-lomba mempelajari bahasa penjajah, yang
sekaligus orang-orang yang sudah asyik dengan bahasa asing (penjajah) itu
terlengah, atau segan-segan mempelajari bahasa Arab, dengan pengertian bahwa
mempelajari bahasa Barat (Inggris, Perancis, Jerman, Belanda, Rusia dan
lain-lain) tidak mempengaruhi aqidah agamanya. Karena itulah hampir semua
negeri-negeri Islam yang berbahasa Arab pun menggunakan bahasa asing, mereka
hanya tahu bahasa Arab di waktu Shalat. Seperti umumnya di negeri-negeri
Afrika Utara. Syukurlah sepeninggal penjajah, negeri-negeri ini bekerja keras
mengembalikan bahasa Arab, sesudah berpengaruhnya Westernisasi di sana.
Para propagandis Kristen di negara-negara Islam
sukses sekali, apalagi setelah merosotnya bahasa Arab, sebagai bahasa yang
menjadi pendorong keinginan beragama di kalangan ummat. Pemerintahnya
melepaskan pegangan ummat dari agama, adab dan akhlaq Islam.
Sebenarnya Orientalis dan penjajah lupa pada rahasia
kegagalannya untuk membawa orang Islam melepaskan agamanya, yaitu bahwa
perbuatan tersebut bertentangan dengan naluri dan fitrah manusia sendiri,
betapapun besar biaya dan usaha mereka namun hal demikian tidaklah bisa
menjadikan mereka berjaya karena Islam itu agama Fitrah yang sangat seuai
dengan kejadian manusia.
Ini pulalah rahasia masuknya Islam ke negara-negara
lain dan langsung bersemi di hati dan akal penduduknya. Islam tersebar tanpa
penyerbuan tentara dan pengiriman propagandis-propagandis yang banyak, tapi
sebenarnya Islam tersebar di seluruh dunia hanya dengan inti ajarannya yang
tersebar melalui pedagang yang bukan tujuannya berda'wah, tetapi meluas
melalui gerakan menyeluruh. Penyiaran Islam di Asia, Afrika, Eropa dan
Amerika dimasuki Islam tak pernah dilakukan dengan kekuatan senjata ataupun
propaganda besar-besaran, tetapi hanya dengan cara menyadarkan dan menghayati
fitrah.
Taktik musuh Islam
Cara-cara propagandis (sesudah perang Salib)
menguasai negara Islam, dan setelah gagal mencapai maksudnya, maka mereka
merubah taktiknya dengan menggerogoti da'wah dengan memasukkan khurafat,
bid'ah, tahayul, cerita-cerita dongeng Israiliyah/Kebatilan ke dalam ajajan
Islam khususnya, menebarkan faham atheisme di Eropa, Amerika. Dengan
terbongkarnya rahasia Kristen bahwa agama ini tak dapat diterima akal dan
tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan, yaitu Trinitasnya, Kristen khawatir
kalau Islam menjalar ke Eropa dan Amerika, justru karena itulah mereka
melakukan offensif, merongrong da'wah dan melemahkan kekuatan agama Islam
dari jiwa ummat Islam, dan melemahkan semangat yang mendorong kaum Muslimin
dalam menghadapi penjajah, yang akhirnya terbuktilah peranan Orientalisme
sebagai alat dari salibiyah dan penjajah. Tapi Allah selalu melindungi
Agama-Nya.
2. Membenamkan ummat Islam ke dalam aliran-atiran fikiran yang menyesatkan
Di antara cara menggerogoti da'wah Islam ialah
membenamkan ummat Islam ke dalam aliran-aliran yang menyesatkan; terutama
Generasi Mudanya dengan memalingkan mereka dari agama.
a. Materialisme
Zaman modern telah diracuni dengan meniupkan faham
kebendaan ke dalam otak dan pribadi masyarakat, dengan faham yang mengingkari
nilai kemanusiaan, rasa kasih sayang penyantun terhadap keluarga, kerabat dan
masyarakat semuanya.
Yang paling berbahaya di dalam aliran materialisme
ialah besarnya nafsu manusia, nafsu masuk selalu di bagian-bagian yang lemah,
sehingga manusia itu selalu cenderung pada hal-hal yang cepat untuk
mendapatkan kecintaan dan kesuksesannya, seperti yang dijelaskan oleh Allah
dalam surat al Qiyamah ayat 20-21 dan surat Al Insan ayat 27, yang artinya:
"Ingat! bahkan kamu suka yang segera dan kamu
tinggalkan akhirat." (al Qiyamah ayat 20-21).
"Sesungguhnya mereka itu mencintai yang segera,
dan meninggalkan di belakangnya hari yang berat pertanggungan jawabnya
(siksanya)." (al Insan ayat 27).
Kecenderungan nafsu ini dimanfaatkan oleh musuh
Islam, untuk memojokkan pemuda dan pemudi melakukan penggerogotan da'wah
Islam dengan mengutip sebagian kata-kata akhli tasauf yang mengatakan dirinya
Islam, di mana kaum tasauf yang ingin memencilkan dirinya dari kesenangan
dunia, yang menurut anggapan mereka adalah bukti dari mengikut agama yang
sebenarnya. Semua ini adalah propaganda batil. Tapi Orientalis mengambil
manfaat dari hal tersebut, untuk merusak Generasi Muda Islam dengan faham
materialis, agar mereka bingung dan ragu.
Materialisme, mengingkari agama yang menyeru kepada
iman, iman pada metafisika (ghaib) yaitu iman pada Allah, malaikat, akhirat,
hisab, surga, neraka dan semua yang terjadi di dalam rasa menjadi pegangan
ratio bagi aliran kebendaan di dalam mehghukum sesuatu, untuk menerima atau
menolak, artinya aliran kebendaan menyarankan ummat manusia ke dalam hawa
nafsu dan mencintai dunia serta meninggalkan agama yang benar.
Karena itu para juru da'wah/ummat Islam harus
menangkis propaganda yang menyesatkan ini dan menjelaskan kepada Angkatan
Muda khususnya bahwa Islam bukan saja menyeru kepada kebahagiaan di akhirat,
dan tidak pernah mengharamkan segala yang baik waktu hidup di dunia, bahkan
Islam menghendaki supaya mereka harus kuat dan sehat agar beramal di semua
lapangan kehidupan, dan memanfaatkan segala sesuatu yang baik dari hasil
usaha mereka itu. (Lihat surat Al-Baqarah ayat 172, Al-Maidah ayat 87,
Al-A'raf ayat 32, dan An-Nahl ayat 97).
Artinya: "Wahai orang-orang beriman! Makanlah
olehmu rezki-rezki yang baik yang telah kami berikan kepada kamu dan
bersyukurlah kepada Allah, jika kamu hanya mengabdi kepada-Nya semata!"
(Al-Baqarah ayat 172).
Artinya: "Wahai orang-orang beriman! Janganlah
kamu haramkan segala yang baik yang telah dihalalkan oleh Allah untuk kamu,
dan janganlah kamu melewati batas, sesungguhnya Allah tidak suka pada
orang-orang yang melewati batas." (Al-Maidah ayat 87).
Artinya: "Katakanlah! Siapa yang berani
haramkan perhiasan yang telah didatangkan Allah untuk hamba-hamba-Nya, dan
jangan mengharamkan yang baik-baik dari rezki; katakanlah semua itu adalah
untuk orang-orang beriman guna kehidupan di dunia dan kehidupan di akhirat
yang murni, begitulah Allah (Kami) menjelaskan ayat-ayat kepada orang-orang
yang mengerti." (Al-A'raf ayat 32).
Artinya: "Siapa-siapa yang beramal saleh, baik
laki-laki maupun wanita dan dia beriman, maka akan Kami berikan padanya
kehidupan yang layak, dan akan kami cukupkan pahalanya dengan yang lebih baik
dan yang sudah ia kerjakan." (An-Nahl ayat 97).
Yang menegaskan: Agar orang-orang yang beriman
menikmati yang halal dan yang baik, dan jangan mencoba-coba mengharamkan yang
dihalalkan Allah, dan jangan melanggar batas ketentuan (Syari'at).
Semuanya itu untuk menjamin keselamatan manusia
sendiri serta untuk melindunginya dari bahaya kehancuran atau menurun ke
derajat alam binatang (yaitu apabila ia sudah melanggar batas-batas
tersebut). Kehancuran dan turun ke derajat hewan inilah yang diinginkan dan
dituju oleh aliran materialisme.
b. Wujudiyah = Existentialism
Yaitu aliran kebebasan yang melepaskan dirinya dari
semua ikatan kemasyarakatan, hukum, peraturan serta adat-istiadat, dan
mengakui semua agama, tak punya tempat, tidak mempunyai isteri dan atau tanah
air. Sebenarnya aliran ini adalah lanjutan dari aliran fikiran yang
ditimbulkan oleh materialisme modern, yaitu memisahkan manusia dari aliran
rohaninya dan menjadikannya menurun ke alam hewan semata, yang tak
berperikemanusiaan dan tidak berperasaan.
PAUL SARTRE, tokoh aliran Wujudiyah (Existentialism)
ini menyatakan: "Yang pantas dilaksanakan dalam kehidupan kebebasan
ialah menjadikan orang-orang pengecut menjadi berani, menerima ajakan
kebinatangan, melakukan keinginan nafsu, membuang semua tradisi ajaran-ajaran
kemasyarakatan dan menghancurkan segala ikatan yang dibuat oleh
agama-agama." (Dari buku karya William James yang diterjemahkan oleh Dr
Mahmud Hasbullah dengan judul Iradah al I'tiqad halaman 21).
Aliran Wujudiyah merusak tabiat manusia, akal, hati
dan jiwa serta menjerumuskan kepada hewan yang tidak berotak, tidak berhati
dan tidak berjiwa (tak berperasaan).
Aliran ini sudah tersebar luas di berbagai tempat di
Eropa dan Amerika sebagai akibat dari kemerosotan Kristen di negeri-negeri
tersebut. Kemudian Yahudi menggunakan kesempatan ini untuk memperluas
kegagalan dan kemerosotan masyarakat Eropa dan Amerika, yang kemudian
diekspor (diluaskan) ke negeri-negeri Islam, melalui Pemuda-pemuda Islam yang
belajar di Barat.
Faham ini ditanamkan pada pemuda-pemuda Islam, itu
sebagai pengertian yang bermaksud untuk pendangkalan, yang dianggap sebagai
gerakan kebebasan. Demikianlah peranan besar yang dilakukan oleh
Orientalisme, untuk menyesatkan Pemuda-pemuda Islam dengan semboyan
"Gerakan pembebasan yaitu bebas dari Agama, akal dan perikemanusiaan
supaya mereka menjadi hewan yang lebih sesat, tidak khawatir lagi pada
bahaya-bahaya kolonialis, dan Orientalis untuk memerangi Islam dan
penggerogotan da'wahnya."
Karena itu kita ummat Islam harus waspada terhadap
propaganda yang berbahaya ini, supaya tidak terpengaruh oleh musuh-musuh
tersebut.
c. Sekularisme
Di antara cara Orientalis untuk merusak da'wah
Islam, ialah dengan penyebaran faham-fahamnya, kepada para ilmuwan Islam,
agar mereka memisahkan antara ilmu dengan agama (yang disebut Sekularisme),
yaitu propaganda palsu dan sesat yang bertopengkan intelektualisme.
Sebenarnya, Sekularisme adalah apa yang
dipropagandakan oleh Orientalisme untuk merusak Da'wah Islam. Mereka
membiayai dan memperlengkapi dengan segala fasilitas agar ilmu dapat terpisah
dari agama. Gerakan ini mulai bangkit di Eropa setelah terjadinya persaingan
antara Ilmuwan dengan pemuka-pemuka Gereja yang berkuasa di zaman Pertengahan
dan menguasai otak orang-orang Eropa, yang tidak menerima fikiran atau
pendapat di luar yang bersumber pada Gereja / Kristen. Di waktu itu kekuasaan
Gereja mempunyai hak pengampunan terhadap orang-orang yang bersalah dan
berdosa besar, begitu juga punya hak mengutuk dan mengusir sebagai mewakili
Tuhan dan lain sebagainya.
Persengketaan ini berakhir dengan berpisahnya antara
ilmu pengetahuan dengan Gereja dan masing-masing punya tokoh utama. Para ahli
pengetahuan boleh berkata sesukanya tanpa protes dari pihak Gereja dan
sebaliknya pihak Gereja punya hak mengatakan apa yang mereka sukai dalam
urusan agamanya.
Ketika terjadi persaingan antara ilmu dan agama
Kristen akibat dari perbuatan pihak Gereja yang menjalankan apa-apa yang
diprotes oleh aliran ilmu maka Agama (Kristen) harus memisahkan diri dari
urusan dunia, dan urusannya diganti/diambilalih oleh aliran ilmu tanpa agama.
Berbeda dengan Islam, Islam selamanya tidak memisahkan dan tidak
mempertentangkan ilmu dengan agama sebab ilmu adalah alat untuk memperkuat
agama, dan agama itu sendiri pun adalah ilmu, dan ilmu adalah pembimbing
kepada Agama. Di dalam Al-Qur'an, kata-kata "ilmu" dan yang
berhubungan dengan ilmu punya hubungan/peranan penting sekali, yang lebih
dari 820 kali disebutkan.
Pengembangan ilmu adalah sebagian dari risalah
Islam, dengan ilmu manusia bisa mengenal Tuhannya, mengamalkan Syari'at
Islam, dan Islam mewajibkan menuntut ilmu, lihat surat Az-Zumar ayat 9,
Al-Mujadalah ayat 11, dan Thaha ayat 114.
"Katakanlah (ya Muhammad)! Apakah sama orang berilmu
dengan yang tidak berilmu? Hanya yang bisa menganalisa ialah ahli-ahli
fikir." (Az-Zumar ayat 9).
"Allah meninggikan derajat orang-orang berilmu
dan yang diberi ilmu." (Al-Mujaadalah ayat 11).
"Katakanlah, ya Muhammad: O, Tuhan! Tambahlah
aku dengan ilmu." (Thaha ayat 114).
Adapun sekularisme yang dilahirkan oleh Orientalis,
membawa pada pemisahan ilmu dengan agama, hal ini tidak ada dalam Islam dan
tidak pantas ada dalam masyarakat Islam, karena Islam menghimpun ilmu dan
pengetahuan.
Siapa yang menerima sekularisme berarti tidak akan
tahu hakekat Islam dan tidaklah sempurna Islam seseorang tanpa ilmu!
Kita harus membendung pemuda-pemuda terpelajar dari
taktik buta sekularisme yang menyesatkan, siapa yang tenggelam dalam aliran
pemikiran yang dibawa Orientalis, berarti akan mengkaramkan ummat Islam
sendiri, sebab hal demikian akan merusak aqidah dan menjauhkan mereka dari
agama yang membawa kesentausaan mereka (Islam). Allah-lah yang punya
kemuliaan, kekuasaan yang menentukan, begitu Rasul-Nya dan orang beriman.
3. Menghancurkan/Membasmi Bahasa Arab
Di antara cara Orientalisme menghancurkan Islam
ialah dengan membasmi bahasa Arab, bahasa Al Qur'an. Ini dilakukan oleh
Orientalis setelah mereka gagal merusak Al Qur'an secara langsung.
Orientalis menanamkan faham kepada pelajar-pelajar,
mahasiswa-mahasiswa Islam di Barat dengan menyatakan bahwa "Bahasa Arab
tidak perlu untuk perkembangan dan pembahasan." Maksudnya ialah untuk
melemahkan bahasa Arab itu sendiri agar Ummat meniriggalkan bahasa Arab dan
terputuslah hubungan sesama ummat Islam dan antara Muslim dengan Allah dan
Sunnah Nabi.
Orientalis menuduh bahwa "bahasa Arab mempunyai
kekurangan-kekurangan, kelemahan-kelemahan, tidak mampu menanggulangi
ilmu-ilmu modern. Keterbelakangan ummat Islam tersebab kekurangan-kekurangan
yang ada dalam bahasa Arab. Bahasa Arab tak mampu menampung buah fikiran atau
teori-teori Barat. Karena itu para pemakai bahasa Arab harus memakai atau
mengalihkan perhatian kepada bahasa asing, dan mendalami bahasa asing yang
digunakan di zaman modern ini."
Tuduhan ini adalah palsu, dan bathil, sebab bahasa
Arab adalah bahasa yang sangat luas dan bisa melahirkan bahasa/kata-kata
baru. Buktinya, sesudah Islam meluas ke tetangga Arab, bahasa Arab bisa
menerima bahasa Rumawi dan bahasa Parsi, yang dijadikan bahasa Arab, baik
untuk mufradaat maupun Tarkib (susunan kata) sesudah itu meluas ke peradaban
Yunani, dan Rumawi kuno. Dengan bahasa Arab bisa diterjemahkan
fikiran-fikiran dan falsafat failasufnya, dari hasil usaha (ilmu) dan bahasa
Arab inilah Eropa mulai dikeluarkan dari kegelapannya di zaman Pertengahan
dan masuk ke abad modern yang mereka banggakan. Tidak logis, kalau bahasa
Arab lemah seperti dituduhkan oleh para Orientalis di atas.
Orientalis menanamkan perasaan pada
pelajar-pelajar/mahasiswa-mahasiswa Islam, agar mereka menulis atau mengarang
harus dengan huruf/bahasa Latin/asing dari Arab, sebab bahasa Arab sulit
menulis dengan mesin, sulit mencetaknya dan lambat dan bermagam-macam
bentuknya. Sedangkan menulis huruf dengan Latin lebih praktis dan tidak
sulit.
Inilah propaganda keji, yang memutuskan antara
Generasi sekarang dengan generasi sebelumnya, dan kalau dibiarkan begitu,
maka bahasa Arab akan ditulis dengan bahasa Latin, padahal dalam bahasa Latin
tak ada huruf:
yang tidak mudah mengucapkannya dengan huruf Latin.
Berarti bahwa propaganda untuk menulis bahasa Arab dengan huruf Latin adalah
untuk melemahkan bahasa Arab, bahasa Al Qur'an dan untuk menghancurkan Islam.
Di samping itu, Orientalisme membesar-besarkan
propaganda untuk menggunakan bahasa Arab 'Ammi (bahasa pasar/harian) sebagai
ganti dari bahasa fushhah (bahasa resmi) yang tidak dipakai dalam masyarakat
awam, ini akan memisahkan (gap) antara orang awam (biasa) dengan orang
terpelajar.
Padahal bahasa fushhah, adalah bahasa Qur'an dan
Hadist, untuk memberikan pemahaman pada semua kalangan, tetapi kalau
dipojokkan untuk kalangan pelajar dan cendekiawan Arab saja akan
tertinggallah orang-orang awam dari memahami Islam, mereka tak akan mampu
melaksanakan, mengamalkan perintah atau meninggalkan larangan, dan tidak tahu
alasan-alasannya, tidak mengerti kisah-kisah dari Al Qur'an atau
pelajaran-pelajaran Islam secara umum.
Sebaliknya bahasa 'Ammi hanya difahami oleh kalangan
terbatas, dan tiap-tiap negara Islam (Arab) berbeda-beda pula bahasa
'Ammi-nya. Taklah asing, kalau bahasa 'Ammi di satu tempat (antara Mesir
dengan Libya, atau Saudi dengan Marokko dan lain sebagainya), berbeda dan
bertentangan satu sama lain, yang tidak dapat difahami satu sama lain, sebagaimana
perbedaan bahasa Inggris awam di Amerika dan Inggris dan lain sebagainya. Ini
tidak lain adalah cara Orientalis memecah belah orang Islam dan menghancurkan
Islam.
Begitu pula, Orientalis mendorong/menyuruh para
pelajar Arab/Islam yang belajar kepada mereka agar meninggalkan bahasa Arab,
dan hanya dibolehkan menggunakan bahasa Eropa (Barat) saja dengan alasannya
yaitu mudah mempelajarinya, aman serta terhindar dari kesalahan. Ini sudah
diperingatkan Allah dalam Al Qur'an surat Yusuf ayat 21:
Artinya: "Allah menurunkan Malaikat membawa
Al-Qur'an dalam bahasa Arab yang tegas, agar kamu memahaminya." (Yusuf
ayat 21).
USAHA PROPAGANDA
Untuk mencapai maksudnya yaitu memalingkan kaum
Muslimin dari agamanya, dan melemahkannya hingga mereka tak mampu melawan serangan
musuh dan penggerogotan da'wah, kaum Orientalis menggunakan berbagai cara
lain dengan memperalat segala kemungkinan yang dipakai oleh ummat Islam
sendiri.
1. Propaganda penyesatan dengan memakai nama Islam
Orientalis menggunakan aliran-aliran Tasauf dan
aliran Kepercayaan/Kebatinan Bahaiy dan Qodyaniyah.
a. Aliran Tasauf
Kepercayaan ini mendawahkan bahwa mereka ingin
menempuh jalan untuk sampai pada Allah, tapi tidak dengan menempuh jalan yang
diatur oleh Allah dalam Al-Qur'an dan oleh Nabi dalam Sunnah; mereka membuat
cara sendiri, yang tidak diizinkan Allah, dan membuat ketentuan/undang-undang
Suluk, yang melakukan zuhud (memencilkan diri dari keduniaan), latihan jiwa
mengharamkan yang halal, dan membunuh nafsu. Mereka mengambil ajaran-ajaran
agama, atau aliran-aliran lain, yang mereka rasakan dan kira-kira belum
terdapat dalam agama Islam dan tentu Syaitan menggiringnya pada
khayalan-khayalan yang tak ada hakekatnya, sehingga mereka membenamkan diri
ke dalam ikatan-ikatan Wihdatul Wujud, serta tidak mengakui Syari'at,
menyama-ratakan antara Iman dan Kafir serta menyamakan antara ta'at dan
durhaka dan da'waan penyaksiannya pada Tuhan bagi segala yang ada.
Lihat kitab karangan Ibnu Arraby, salah seorang
aktivis yang aktif mengupas. tentang kaum tasauf (Wihdatul Wujud) yang sesat.
b. Bahaiy
Bahaiy lahir di Iran pada abad ke-19, yang mengambil
inspirasi dari ajaran Syiah, disebarkan dan dikembangkan oleh Syirazy
(keturunan Yahudi yang mengaku beragama Islam) yang bergelar BABA, tak berapa
lama sesudah Imam ke-12 Muhammad bin Hasan al Ashary yang kelahirannya
dinanti-nantikan oleh sekte "Syiah Imam 12".
Kemudian kebohongan ini terbukti dengan kehobongan
Al Baba (Syirazy) di kalangan Syi'ah, yang menyatakan bahwa imam yang sudah
hilang, akan muncul di Tebriz (Iran) (Adzarbijan.)
Kaum Syi'ah meyakini, bahwa imam ini akan
timbul/bangkit di Timur Iran, di suatu gunung yang bemama "Kouh
Khada", artinya "Gunung Allah". Kemudian Al Baba ditangkap dan
dihukum mati, dan sebelum dihukum mati diumumkan, bahwa Imam yang dimaksudnya
ialah muridnya "Hasan Sabah Azal" yang bergelar
"Baha'ullah" dan dinamakanlah alirannya Al-Baha'iy karena
dihubungkan dengan Baha'ullah ini, yang lari dari Iran. Baha'ullah
menda'wakan dirinya Nabi, yang diutus membawa agama baru, pembaharu Islam,
dan kepadanya diturunkan kitab. Selama hidupnya ia giat menyiarkan ajaran
Bahaiy ini. Dia dikuburkan di Palestina yang diduduki Israel.
Propaganda Aliran Bahaiy serupa dengan Komunisme,
yaitu melepaskan diri dari ikatan dan ajaran agama, dengan kedok
"kedamaian dan anti perang", memberikan kebebasan pada wanita
sesuka hatinya, menjadikan tahunan jadi 19 bulan. Jadi hakekat ajaran ini
benar-benar menyeleweng dari Islam dan merusak agama Islam.
Propaganda Bahaiy ini disokong oleh Kolonialis dan
Orientalis, demi untuk merusak dan memalsukan Islam. (Lihat Al-Qodyani dan
Al-Qodyaniyah, karangan Abu Hasan An Nadawy, halaman 19 dan seterusnya).
c. Al-Qadyaaniyah
Yaitu propaganda penyesatan yang timbul di India,
pada akhir abad ke-19, yang berkedok (memakai) nama Islam, didirikan oleh
MIRZA GHULAM AHMAD dan pusat kegiatannya di India, penganutnya ialah rakyat
India juga, kemudian meluas ke luar negeri dan bermunculan di negara-negara
Asia, Afrika. Inipun disokong oleh Kolonialis dan Orientails.
Gerakan Qodyaniyah ini timbul di masa udara
pemikiran dan politik India sesudah revolusi menentang penjajahan Inggris
pada tahun 1875, yaitu Revolusi yang menghancurkan ummat Islam. Maka Qodyani
mengikuti langkah politik kolonial. Dengan langkah kebudayaan ini, mereka mendapat
bantuan dari Inggris. Tujuannya adalah menggoncangkan aqidah Islam, karena
Islam-lah sumber yang membangkitkan roh jihad membela agama, tanah air, harta
benda dan jiwa. (Lihat Al-Qodyani karangan Abu Hasan An Nadawy).
Di samping itu Kolonialis memperalat aliran-aliran
Tasauf dan kebatinan yang telah menyeleweng untuk menyebar luaskan
perbuatan-perbuatan bid'ah, khurafat. Dalam keadaan orang Islam India putus
asa dan grogi, dan menyerah pada tekanan situasi yang berbahaya, banyak di
antara mereka yang digiring masuk ke dalam aliran Qodyani yang bathil, yang
dipelopori oleh Mirza Ghulam Ahmad di Punjab.
Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang yang diagungkan
oleh Inggris, yang di masa mudanya terkenal dengan penganut aliran Tasauf,
dan menyendiri. Kemudian dia jadi tokoh di kalangan ummat Islam dan mengutip
ayat-ayat Al Qur'an dan sebagiannya yang diselewengkan, yang bagi orang
awamdan tidak hafal Qur'an, sama saja antara Qur'an dengan bahasaArab. Ini
adalah usahanya merusak Qur'an.
Bukan sekedar itu saja, bahkan dia menda'wakan
dirinya sebagai Nabi yang menerima wahyu, dan dia aktif menyiarkan ajarannya
ini untuk maksud politik yang digariskan oleh Kolonial. Dia menghapuskan
Jihad, sebagai kewajiban umat Islam dia mengancam revolusi Islam menentang
penjajah Inggris di India.
Dalam bukunya TERYAQ QULUB, Mirza Ghulara Ahmad mengatakan: "Saya menggunakan sebagian besar umurku untuk menyokong pemerintah Inggris, dan mencegah jihad, wajib taat pada Ulil Amri (Inggris)." Ini ditulis dalam buku-buku selebaran-selebaran, brosur-brosur yang kalau mungkin dikumpulkan semuanya telah memenuhi 50 gudang. Buku-buku ini tersebar di negeri-negeri Arab, Mesir, Syiria, Turki serta Indonesia dan lain-lain, yang tujuannya agar ummat Islam toleransi dan mengakui kekuasaan penjajah; dia memuaskan hatinya dengan kisah Al Mahdi dan Al Masih yang ditunggu datangnya kembali ke bumi, dan menghapuskan perasaan Jihad dan lain-Iain.
Ini membuktikan, bahwa Mirza Ghulam Ahmad
menggunakan Qodyaniyah sebagai alat untuk mematahkan cita-cita ummat Islam
India, supaya mereka tidak melakukan perlawanan terhadap Inggris dan menerima
kehinaan serta perbudakan. Artinya, Qodyaniyah adalah produk Kolonial. Inilah
rahasia yang menjadikan Qodyan masih berkembang sesudah matinya Mirza Ghulam
Ahmad tahun 1908, dan pengikut-pengikut Mirza ini aktif menyiarkan
aliran-aliran ini di kalangan ummat Islam dengan giat atas bantuan biaya dan
moril dari musuh-musuh Islam. Qodyan membuka cabang-cabangnya di Eropa, Asia
dan Afrika yang menggunakan nama sebagai da'wah Islam. Penganut Qodyaniyah
bekerjasama menyebarkan faham kolonialisme bersama Orientalis dan Zionis.
Bahkan mereka sengaja menyerang Islam dengan menggunakan musuh-musuh Islam sebagai anggota da'wahnya, yang tentu mereka mengarah saja ke penggerogotan Islam, namun begitu Allah tetap melindungi Islam.
2. Menggunakan Mass Media
Orientalis selalu bersama Kolonialis dalam menyerang
(memerangi Islam). Di negeri-negeri Islam sendiri, seluruh mass media modem
selalu bekerjasama dengan Orientalis dalam memerangi Islam dan menggerogoti
da'wahnya. Maka ummat Islam menghadapi perang pena, mass media yang membawa
kebinasaan yang disampaikan mereka dalam surat-surat kabar, majalah-majalah,
radio, televisi, film atau theater dan lain-lain.
Bahaya perang Mass Media (perang pena) ini besar
sekali, sebab ia langsung meresap ke dalam otak dan hati tanpa koreksi, dan
tanpa disaring oleh kebanyakan manusia dan ummat Islam. Fikiran-fikiran
berbisa yang dilontarkan dan meresap ke dalam otak ummat Islam,
fikiran-fikiran yang merusak dan berbisa ini sengaja ditiupkan dan
dihembuskan oleh para orientalis antek kolonialis sebagai taktiknya menyerang
Islam.
Mass media dipergunakan oleh musuh-musuh Islam itu
untuk menghancurkan umat Islam, melalui tulisan-tulisan, gambar-gambar,
film-film, fikiran, buku-buku, sandiwara, pidato-pidato, dan uraian yang
berkedok ilmiah. Ini lebih berbahaya dari serangan fisik langsung oleh
militer lengkap dengan persenjataannya sebab tentara itu mudah dilihat dan
diketahui gerakan dan penyerangannya.
Yang sangat disayangkan sekali ialah bahwa ummat
Islam di semua tempat tidak menyadari bahaya mass media yang disalah-gunakan
ini, dan banyak pula para Juru Da'wah, Muballigh, menerima saja apa yang
disiarkan oleh Mass Media.
Di zaman kita sekarang ini, umumnya Mass Media
sering menyiarkan bermacam kefasadan, kemungkaran, kebebasan, atheis.
Semuanya disajikan sesuai dengan apa yang berlaku di Eropah dan Amerika, di
mana kebanyakan masyarakatnya sudah merosot sekali moralnya karena sudah
dangkalnya paham dan pengertian agama mereka dan akibat terbongkarnya rahasia
Kristen yang di dalam ajarannya sekarang banyak sekali kontradiksi
(pertentangan-pertentangan) begitu pula ajaran Yahudi sendiri, semuanya tak
sesuai lagi dengan akal yang sehat dan ilmu pengetahuan.
Sebaliknya, Islam dan ajarannya selamat dari
kontradiksi itu. Islam menyeru kepada Tauhid, persatuan dan persaudaraan,
keadilan, kemajuan dan sesuai dengan akal dan pengetahuan. Islam menyeru
ummat manusia agar berjuang untuk mempertahankan agama Islam, mempertahankan
tanah air, hak, diri, keluarga, dan lain-lain. Justru karena itulah
Kolonialis dan antek-anteknya MENGUASAI MASS MEDIA untuk MENGELABUI dan
MEMUTAR-BALIKKAN FAKTA.
3. Membesar-besarkan Tradisi Kuno
Membesar-besarkan adat dan tradisi serta
perbuatan-perbuatan masyarakat di masa Jahiliyah, perbuatan-perbuatan bangsa
primitif, yang dida'wakan dan dihembuskan bahwa hal yang seperti itu
seolah-olah adalah ajaran Islam; ini dilakukan pula oleh para Ilmuwan Islam
(munafiq) yang bekerjasama dengan Orientalis. Akhirnya mereka menuduhkan
bahwa orang-orang Islam itu sama dengan Badui, Kubu, Ortodok, seperti suku
terasing dan primitif, liar, fanatik, dan lain-lain. Syari'at Islam itu
(menurut Orientalis ) hanya sesuai dengan orang-orang primitif dan orang
ortodok, tak sesuai dan tak cocok dengan zaman modern, dan lain sebagainya.
Di samping itu, Orientalis dan anteknya selalu
meniupkan hal-hal dan bibit perpecahan antara bangsa, pemisahan antara
bangsa, pemisahan antara adat Arab, dan adat suatu bangsa dengan Islam.
USAHA UMMAT ISLAM MENANGKIS SERANGAN ORIENTALISME
Sekalipun kaum penjajah sudah angkat kaki, tapi
ajaran-ajaran dan sistemnya terus dijalankan oleh mereka yang telah keracunan
oleh ajaran-ajarannya itu dan diteruskan oleh pengikut-pengikut yang mereka
tinggalkan.
1. Defensif
Agar Ulama-ulama, Juru Da'wah, Muballigh serta
pemimpin-pemimpin Islam aktif menangkis tuduhan-tuduhan, pemalsuan dan
propaganda berbisa yang sengaja dilontarkan oleh Orientalis, supaya ummat
Islam sadar, insaf dan lebih aktif membahas dan mempelajari ajaran agama
Islam dan mengamalkannya.
Usaha ini memerlukan alat-alat dan mass media pula, memerlukan Juru Da'wah yang khusus dan berilmu tinggi, berakhlak mulia, berjiwa jihad dan beramal karena Allah, dalam ilmunya mengenai Islam, juga memahami taktik dan strategi serta tulisan dan karangan musuh-musuh Islam, dan mengerti bahasa-bahasa asing: Inggris, Perancis, Jerman, Rusia dan terutama sekali bahasa Arab.
Di samping ilmu dan kesungguhannya itu PERLU ADANYA
IKATAN (ORGANISASI) Juru-juru Da'wah dan Organisasi Da'wah untuk menghimpun
dan.mengatur kerjasama dan mengatur taktik dan strategi Islam.
2. Tabligh
Agar ummat Islam aktif menyiarkan dan menyebar
luaskan ajaran Islam ke seluruh negeri yang belum beragama dan ke
negeri-negeri yang belum sampai padanya ajaran Islam. Ini pun memerlukan
adanya juru da'wah yang militan dan ulet, berilmu dan mengerti betul tentang
Islam, cerdas, dan tergabung dalam kelompok mubaligh guna menghadapi
lawan-lawan Islam dalam segala bentuk, nama dan tindakan serta serangannya
seperti dijelaskan di atas.
Ingatlah firman Allah dalam surat Ali Imran ayat
104, yang artinya: "Hendaklah di antara kamu ada ummat yang menyeru
kepada kebaikan, melakukan yang ma'ruf dan mencegah yang munkar mereka itulah
orang yang menang."
Surat As-Shaf ayat 14, yang artinya: "Wahai
orang-orang beriman! Hendaklah kamu menjadi Pembela agama Allah, seperti yang
dikatakan oleh Isa bin Maryam kepada pengikutnya: Siapa yang akan menolongku
untuk menegakkan agama Allah? Dijawab oleh pengikutnya spontan (langsung):
'Kami ansharullah' (Pembela Agama Allah)."
Karena itu, wajib bagi semua ummat Islam berjuang
dan aktif berda'wah menyiarkan dan membela Islam dengan semua kemampuan,
harta, tenaga, ilmu dan semua yang dimiliki, baik kedudukan, jabatan, kekuasaan,
ilmu dan segalanya, agar dimanfaatkan untuk mengeluarkan ummat manusia dari
Zhulumat (musyrik, kafir, munafiq, fasiq, bodoh, melarat, miskin, lemah,
dianiaya, pecah-belah, dan lain-lain), kepada an NUUR (bertauhid, beriman,
istiqamah, beramal shaleh, pintar, makmur, kuat, adil, bersatu, dan
lain-lain) sesuai dengan ketentuan Syari'at Islam yang meliputi Tauhid, Hukum
sanksi, warisan, akhlak, jihad, dan semua mu'malat, politik, ekonomi, dan
lain-lain, tanpa menambah atau mengurangi.
Oleh Dr. Abdul Mu'nim Muhammad Hasanain, dari
Majalah ISLAMIC UNIVERSITY MADINA, Nomor 2 Tahun ke-X, Ramadhan 1397/Agustus
1977, halaman 79-105.
Diterjemahkan dan diringkaskan oleh Anhar
Burhanuddin, M.A.; Jakarta, 10 Mei 1978 – (LPPA)
|
Jumat, 16 Mei 2014
ISLAM DAN ORIENTALISME
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Potret Ramadhan
Oleh: Abdurrahman Rifki Alhamdulillah, kita berjumpa kembali di bulan yang penuh kemuliaan dengan gaya bahasa agama ada tiga muatan...
-
A. Pendahuluan Al-Qur’an merupakan kitab suci yang paling sakral bagi umat Islam, di dalamnya terdapat semua sumber hukum yang be...
-
A. Hadis Dla’if Hadis dla’if adalah hadis yang kehilangan satu syarat atau lebih dari syarat-syarat hadis sahih atau hasan, ada pen...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar